An Unconvenient Truth: Hipokrisi Gore dan Penyelamatan Bumi

March 6th, 2007 by arjazz

An Incovenient Truth, sebuah film dokumenter yang memenangi 2
penghargaan Oscar sebagai Best Documentary- Features dan Best Original
Song. Film ini dibintangi hanya oleh 1 orang, yakni eks Wakil Presiden
AS (juga eks Calon Presiden AS), Al Gore.

Dari awal hingga akhir, film ini berisi adegan Gore yang sedang
menjelaskan fakta-fakta mengenai bumi kita tercinta ini di depan
puluhan audiens. Isu utamanya adalah tentang pemanasan global. Dari 100
menit durasi film ini, hampir 80-90 menit diantaranya diisi "khotbah"
Gore yang berisi data-data kondisi lingkungan terkini, dan dibandingkan
dengan kondisi di masa lalu.

  Di AS, di Kutub, di Peru, di Mongolia,
dan di tempat-tempat lain di dunia, terlanda efek dari meningkatnya
suhu bumi ini. Gore bercerita panjang lebar mengenai isu ini, didukung
dengan data-data akurat dan presentasi yang meyakinkan dan cukup
mengundang senyum karena lumayan jenaka.

  Sepanjang film, saya mencoba untuk tidak melihat siapa yang bertutur di  film ini. Saya berusaha menghilangkan sosok Al Gore
dari mata saya. Saya hanya berpikir tentang isu yang disampaikan.
Mengapa? Karena untuk saya, Gore itu hipokrit alias munafik. Hipokrit,
karena, pada saat ia berkuasa sebagai wakil Bill Clinton
tahun 1996-2000, rezim AS di bawah Clinton toh tidak mau menandatangani
Protokol Kyoto yang bertujuan mengurangi pemanasan global. Alasannya,
Protokol Kyoto akan memperlambat laju pertumbuhan ekonomi AS. Selaku
Wapres, Gore juga memimpin Kongres AS. Tapi apa? Setidaknya, tidak ada
produk hukum federal yang secara signifikan menunjukkan dukungan
terhadap isu lingkungan. Yang menarik dari "khotbah" Gore tersebut, ada
3 kesalahan berpikir (misconception) yang selama ini menghuni alam
pikiran kita, yaitu:
  1.  Bahkan para ilmuwan pun belum menyepakati tentang bahaya pemanasan global ini.
Dalam film tersebut dijelaskan bahwa dari 928 jurnal ilmiah (10 persen
dari total seluruh jurnal ilmiah yang diterbitkan di AS), tak ada
satupun jurnal yang tidak mengamini adanya bahaya akibat pemanasan
global. Pendek kata, ilmuwan-ilmuwan dunia sudah menyadari bahaya ini.
Hanya saja, ternyata dari 600-an terbitan populer (koran, majalah),
lebih dari 58 persen mengarah pada suara yang sama, yakni bahwa isu
pemanasan global adalah isu masih masih dipertanyakan. Gampang
ditelusuri bahwa memang ada upaya dari para pelaku ekonomi yang tidak
ingin diganggu isu-isu lingkungan berusaha membentuk opini masyarakat
melalui media.

  2. Memperhatikan lingkungan sama saja dengan membiarkan ekonomi mandek.
  Sepertinya, kita lupa satu hal, bahwa ekonomi juga tidak akan berjalan di
atas planet yang porak poranda akibat kerusakan lingkungan dan
pemanasan global. Isu inilah yang selalu diangkat oleh AS dalam
penolakannya terhadap Protokol Kyoto. Padahal penolakan itu tidak
berdasar. Teknologi baru yang memungkinkan kita mengurangi penggunaan
bahan bakar fosil sudah sangat mungkin dikomersialkan. Energi
alternatif terus dikembangkan untuk menghidupi urat nadi industri masa
kini. Jadi, apa sebenarnya mau AS itu?

  3. Kita
sudah mengetahui dan menyadari bahaya lingkungan ini, tapi, persoalan
sudah terlalu besar dan kita sudah tidak bisa berbuat apapun.
  Percayalah, sesedikit apapun sumbangsih kita bagi planet Bumi kita ini, sangat berguna dalam penyelamatannya.

Nah, coba kita kembali ke sosok Gore itu sendiri. Ternyata, dari
sejumlah tulisan yang saya cari di internet, diketahui bahwa Gore punya
sebuah mansion (villa) yang berada di Nashville, yang mengkonsumsi
listrik sebanyak 221.000 kilowatt hour (kWh) pada tahun 2006. Jumlah
ini di atas rata-rata konsumsi rumah tangga AS yang hanya 10.656 kWh
per tahun! Atau lebih dari 20 kali lipat! (sumber: http://www.tennesse epolicy.org/ main/article. php?article_ id=367 )

Beberapa bagian film ini cukup mengganggu saya dengan penggambaran Gore
dalam sejumlah kesempatan terpisah. Sepertinya, Gore ingin tebar pesona
dalam film ini. Ia ingin menampilkan citra mantan politisi yang kini
sudah undur diri dan mencoba aktif "mengedukasi" masyarakat. Saya
kadang jadi curiga bahwa film ini adalah kampanye pendahuluan dari Gore
yang masih berambisi untuk jadi Presiden AS, entah kapan waktunya.

Yang agak parah menurut saya adalah Gore yang banci karena tidak berani
mengkritik perusahaan-perusaha an AS yang telah turut serta dalam
perusakan lingkungan secara masif di seluruh dunia, utamanya di
negara-negara berkembang seperti Indonesia
dan negara-negara dunia ketiga lainnya. Hanya satu sentilan kecil ia
tujukan untuk Exxon. Sisanya? Sama sekali tidak ada! (Adalah sebuah
kenyataan bahwa Gore pun berasal dari kelompok elit politik AS yang
berkembang dari dinasti-dinasti politik yang tentu saja didukung
kucuran licin uang minyak dari perusahaan-perusaha an seperti Exxon,
Chevron, Caltex dan lain sebagainya, yang berjabat erat dengan para
politisi tadi, baik dari Demokrat maupun Republik).

Jika
Gore sedikit lebih berani dan benar-benar tidak memiliki agenda
terselubung di balik film ini, seharusnya ia dan timnya berani
mengelaborasi fakta-fakta kerusakan lingkungan di dunia ini yang
diawali standar ganda perusahaan dan Pemerintah AS saat berbisnis di
negara-negara lain.

Namun lepas dari beberapa kekecewaan terhadap film ini, harus saya
akui, pesan yang disampaikan Mr Gore cukup sampai. Bumi, adalah
satu-satunya rumah kita. Ke mana lagi kita akan tinggal jika planet
tercinta ini rusak? Kenapa kita tidak melakukan upaya-upaya yang,
meskipun kecil, bisa turut memberi sumbangsih bagi penyelamatan bumi
ini. Menghemat listrik, mendaur ulang kemasan makanan, minuman, dan
kertas kerja, mengurangi polusi CO2 dari kendaraan, dan sejumlah
tindakan lainnya.

  Mari sayangi Bumi kita. Inilah rumah kita.

  Bacaan lain:
  Situs film An Inconvenient Truth
http://www.climatecrisis. net

  Protokol Kyoto
  http://unfccc. int/resource/ docs/convkp/ kpeng.html
  http://en.wikipedia .org/wiki/ Kyoto_Protocol
  http://ec.europa. eu/environment/ climat/kyoto. htm

  Pemanasan Global
  http://www.climateh otmap.org/
  http://www.epa. gov/climatechang e/
  http://www.worldvie wofglobalwarming .org/

Jurnalisme Kepanikan: Heboh kecelakaan AdamAir di saat saya harus menghadapi ujian

January 10th, 2007 by arjazz

Saat waktu baru beringsut sekitar 18 atau 19 jam saja dari momen pergantian tahun yang (menurut saya) biasa saja (tapi tidak menurut ribuan warga Jogja), sebuah berita mengejutkan tampil di televisi.

Sebuah stasiun televisi, dengan pembawa acara yang simpatik namun tajam, mengumumkan, sebuah pesawat Boeing 737-400 milik AdamAir hilang. Pesawat bernomor KI 574 (ada juga yang menyebut DHI 574) tersebut sedang menerbangi rute Surabaya ke Manado. Jumlah penumpang dan kru yang berada di atas pesawat berjumlah 102 orang, demikian lanjut mas Bayu yang bermuka ramah itu. Kesimpulan sementara saat itu, pesawat yang belakangan diketahui sudah pernah dipakai 8 maskapai sebelum AdamAir itu, mengalami kecelakaan karena cuaca buruk.

Tapi, malam itu, waktu berjalan terus untuk saya. Malam itu, saya memikirkan 2 ujian yang akan saya hadapi besok. Ujian hukum dagang, yang saya belum punya fotokopiannya (maklum, julukan mahasiswa fotokopian secara sepihak sudah saya klaim sejak awal masuk kuliah di UGM). Satu lagi, ujian hukum pidana militer, sudah punya kopiannya, tapi saya belum dapat tandatangan dosennya. Argh, pusing! Apalagi, besok saya masih harus kerja. Bener-bener mumet! Dan setelah membaca beberapa lembar, dengan sukses saya jatuh tertidur, melupakan hukum dagang dan pidana militer, apalagi AdamAir.

Pagi-pagi, saya bergegas ke kos Anwar, temen saya di kuliah dan juga temen kerja, yg lokasinya di bilangan Baciro, dekat kantor (meniru frasa Tio). Saya berharap dapet selembar-dua lembar materi ujian, tapi saya lupa kalau mas Anwar yang ganteng itu ber-NIM ganjil, yang berarti kelasnya beda, materinya juga beda. Mampus aku! Belum lagi, saya juga sudah harus nyetok berita biar temen-temen yang saya tinggal nggak terlalu kelimpungan.

Saat sudah nyetok berita, saat saya sudah memakai kaos kaki (ini jarang sekali buat saya, pake kaos kaki dan sepatu adalah hanya pada saat ujian), muncul berita di televisi: AdamAir ditemukan di Kabupaten Polewali Mandar (Polman) di Sulawesi Barat. Datanya gamblang dan terang, dari 102 orang di badan pesawat malang itu, 90 dinyatakan tewas, yang selamat 12 sisanya.

Sepulang ujian, media sudah ramai memberitakan penemuan pesawat naas itu. Media dotcom di mana saya bekerja juga menerjunkan belasan berita secara berturut-turut (tidak memberi ruang sedikitpun untuk porsi berita dari daerah lain). Ada bermacam-macam berita, dari keterangan Danlanud Makassar (wah saya jadi teringat betapa hebatnya militer kita menciptakan akronim), Bupati Polman, Gubernur Sulbar, hingga Menhub Pak Rambut Putih, Men Seskab, dan Wapres Kelik. Semua ribut, semua berebut corong minta waktu bicara. Ringkasnya, dengan derasnya pernyataan dan pengumuman dari para pejabat yang cukup kompeten, hingga hampir ujung hari Selasa itu, kami percaya bahwa pesawat itu memang benar jatuh.

Hingga, selepas Maghrib, saat saya masih tinggal di kantor, ada berita tak kalah mengejutkan muncul di televisi: seorang pejabat militer di Makassar membantah bahwa pesawat AdamAir sudah ditemukan!!! Tak percaya dan terkejut. Dengan tidak kalah meyakinkan, bapak Mayjen itu menegaskan, tidak ada satu pun pesawat yang sudah ditemukan. Tak ada raksasa Boeing, tak ada capung, dan tak ada pula jangkrik.

Lalu, apa artinya ini? Ngapain aja media-media kita seharian? Berita apa yang mereka turunkan untuk dikunyah publik selama 9-10 jam terakhir? Berita yang sempat membuat keluarga para penumpang sangat sedih, tapi juga memberi harapan adanya korban selamat. Berita yang sempat menggerakkan ratusan anggota tim SAR ke Polman, sekaligus membuat seluruh mata di segenap penjuru negeri menyorot ke daratan Sulawesi. Otak saya coba mencerna dan merunut seluruh kejadian hari itu. Ah, akhirnya kesimpulan yang (terlampau) sederhana saya peroleh: media massa kita, terjebak dalam sebuah komunikasi/jurnalisme kepanikan (entah darimana saya mendapat istilah ini). Ketika satu media menurunkan berita tersebut, semua turut memberitakan (mungkin karena takut disemprot Pimrednya di Jakarta sana) tanpa ada proses cek dan ricek serta verifikasi mendalam atas nilai kebenaran sebuah berita. Parahnya, komunikasi/jurnalisme kepanikan menyebar lebih cepat dari wabah flu burung. Akhirnya, kesalahkaprahan yang menular ini tercatat dalam sejarah kita. Bahwa kita pernah suatu hari, pernah merasa menjadi orang(bangsa) terbodoh di dunia yang sangat percaya kepada media.

Untuk saya pribadi, payahnya, saya masih harus mikirin ujian besok. Ahhhhhh!

Makan terigu, menyejahterakan orang asing?

October 9th, 2006 by arjazz

Saya dari dulu sangat, sangat senang sama makanan yg satu ini. makanan yg empuk…manis, juga kadang asin. gampang ditelan dan nggak anti ditemani sama kopi atau teh.

namanya roti. apakah ada diantara anda yang nggak tahu apa itu roti? roti, meskipun bukan makanan asli indonesia, saya pikir dikenal oleh hampir setiap kalangan masyarakat di seluruh kolong langit ini.

roti, gampangnya, dibuat dari bahan baku utama bernama tepung terigu. di pasaran, ada tepung terigu curah, ada pula yg bermerek. ada yang segitiga biru, ada cakra kembar, ada gunung bromo, dan lain-lainnya. apa sih bahan pembuat tepung terigu?

anda benar! bahan pembuatan tepung terigu adalah gandum. dan tahukah anda bahwa tidak ada segelintir pun gandum yg ditanam di bumi indonesia? tahukah anda bahwa seluruh gandum yang akan dibuat menjadi tepung terigu sepenuhnya impor? impornya, bisa dari australia, dan bisa pula dari negara eropa atau amerika.

jadi, saya terkadang berpikir jika tengah makan roti (bukan sebuah dosa lho makan sambil mikir. tp kalo makan sambil ngomong itu nggak sopan :D). saya banyak makan roti, maka saya banyak mengkonsumsi terigu. maka saya banyak mengimpor gandum. maka saya ikut menyejahterakan para petani gandum di negeri seberang sana (meskipun nggak bohong kalo makan roti itu ikut menyejahterakan ibu-ibu yg membuat roti di dapur rumahnya sendiri).

apa sebenarnya yang ingin saya sampaikan? saya tidak sedang mengajak anda berhenti makan roti. saya juga tidak mengajak anda memboikot pabrik roti. yang ingin saya tawarkan adalah kesediaan anda untuk melihat sebuah fenomena dengan berbagai macam perspektif. silahkan anda makan roti, tapi tolong juga perhatikan nasib petani-petani kita yang teriak-teriak kesulitan bagaikan tikus mati di lumbung padi. perhatikan bahwa nasib mereka makin tergerus oleh kebijakan impor beras yang hanya memperkaya cukong-cukong dan petani-petani di luar negeri.

mampukah kita?

Working in a Digital World

September 15th, 2006 by arjazz

Yang paling penting dari seorang manusia adalah eksistensinya
The most important things from a human being is his existence
(Arya Perdhana)

Hufff….
It’s a working world
Saya nggak bisa percaya bahwa saya sudah mengalami yang namanya dunia kerja. Dari beberapa waktu yang lalu memang saya sudah pernah kerja. Pernah di sebuah perusahaan IT milik seorang teman. Saya jadi marketing untuk sebuah situs layanan yang kini tampaknya sudah almarhum. Total, 2 bulan saya kerja. Lalu, saya pernah pula jadi asisten seorang profesor (sampai sekarang).

But…
Everythings seems so different.
Di tempat kerja yang dulu, saya cuma partimer. Di tempat ibu Prof itu juga. Tapi di tempat baru ini saya benar2 full-timer. 9 to 5. Begitu istilah orang menyebut waktu kerja itu.

Saya bekerja di situs berita digital. Tidak perlu sebut merek. Gampang aja kog. Saya yakin, situs berita di Indonesia ini bisa diitung dengan jari. Perusahaan tempat saya bekerja, dapat dikatakan, yang terbesar di Indonesia. Divisi saya Mobile. Divisi ini menyediakan berita melalui sarana telpon seluler (ponsel) dalam bentuk sms.

Working in a Digital World…
Saya menemukan hal-hal yang mungkin tidak terlalu jamak ditemukan dalam dunia kerja (konvensional). Saya tunjukkan salah satunya saja…Tidak ada kewajiban pakai pakaian resmi kalo ke kantor. Nggak cuman saya, tapi seluruh temen kantor boleh2 aja kalo mau pake celana pendek misalnya. Selama masih sopan, saya pikir, it’s OK lah. Cuma saja, karena saya relatif baru, saya berani pake celana pendek kalo hari Sabtu atao Minggu saja. Soalnya gak banyak orang di kantor jadi gak terlalu masalah. Tapi kalo pake kaos, tiap hari kayaknya. Hehehehe.

Working in a Digital World…
Dibutuhkan informasi minute-by-minute yang akurat. Jika sebuah event penting terjadi, maka kami harus siap untuk memberikan informasi yang tidak hanya cepat, tapi juga akurat kepada pelanggan. Contohnya: Pembatalan eksekusi Tibo, cs. Atau kecelakaan pesawat di Ukraina. Atau juga cerita kemenangan MU di Liga Inggris.

Working in a Digital World…
So far, saya menikmati pekerjaan ini. Lagipula, saya mendapatkan teman2 yang asyik. Yang lumayan sehati sama saya. Yang nggak sehati pun juga asik. hehehehe. Internet yang always-on, bisa kita manfaatkan untuk nyari informasi apapun. Bisa juga buat nggarap skripsi. Hehehehe. (Duet A di kantor yang sedang nggarap skripsi). Pusing dikit, bisa googling. Hahahahahaha.

Working in a Digital World…
Hampir 3 bulan. Kontrakku diperpanjang nggak ya?
Salam!

Ketatnya Pertahanan dan Drama Yang Tidak Mendapat Panggung di Jerman

July 9th, 2006 by arjazz

Kehl
Kemarin, legenda sepakbola Jerman yang dikenal dengan julukan Der Kanzler alias Sang Kaisar, Franz Beckenbauer
membuat pernyataan menarik. Ia mengecam tim-tim peserta Piala Dunia yang cenderung tampil defensif. Hal ini dibuktikan dengan rata-rata gol yang hanya mencapai 2,27 gol per pertandingan (hingga semifinal). Rataan ini hanya sedikit lebih baik dari Piala Dunia 1990 Italia yang rata-rata gol di sana hanya berkisar pada 2,21 gol per pertandingan (tahun sekaratnya filosofi menyerang dalam sepakbola, sekaligus tahun di mana Beckenbauer ditahbiskan menjadi orang Jerman pertama yang memenangi PD sebagai pemain sekaligus sebagai pelatih). Ia menyerang pelatih-pelatih yang hanya memakai 1 penyerang serta lebih berkonsentrasi bertahan dan membangun serangan balik. Ia sebut mereka sebagai penakut.

Beberapa hari silam saya ingat juga ada kecaman dari Presiden FIFA Sepp Blater kepada Sven-Goran Eriksson sang pelatih Inggris yang hanya menggunakan 1 orang penyerang. Menurutnya, Inggris pantas bermain lebih baik dari penampilan yang mereka peragakan di babak penyisihan grup. Hal ini senada dengan kecaman pemain Inggris
sendiri, Michael Owen–yang terpaksa pulang lebih awal karena cedera dan menyisakan Eriksson pilihan yang sulit, yakni 1 orang striker yang baru sembuh dari cedera namun menanggung beban super berat di pundaknya, pemuda canggung yang tingginya hampir 2 meter dan seorang lagi remaja ingusan yang bahkan belum pernah merasakan sengatan tekel bek-bek tangguh di kancah Premiership. Owen mengecam taktik si Swedish Eriksson dengan hanya menempatkan Wayne Rooney sendirian di lini penggempur. Kartu merah Roo ketika melawan Portugal, sebut Owen, adalah akibat dari rasa frustasi Rooney the Wonderboy karena ia tidak punya partner seimbang di lini depan Inggris.

Buat saya, PD kali ini memang cukup wagu. Kenapa wagu? Ya karena apa yang diucapin sang ketua panitia yang sukses besar, Beckenbauer (dan kemudian saya juga ingat ucapan mantan top-skorer PD 1990 dari Inggris Gary Lineker yang menyebut bintang PD kali ini adalah para bek dan kiper), saya pikir banyak benarnya. Bayangkan, dari 4
semifinalis, 3 tim (Prancis, Portugal, dan Italia) memakai taktik 1 striker dan menumpuk 5 orang gelandang di tengah. Cuma Jerman yang secara berani dan revolusioner (kredit untuk sang pelatih Jurgen Klinsmann yang memang mantan penyerang andal) memasang duet kelahiran Polandia Lukas Podolski dan Miroslav Klose sebagai tumpuan harapan penggempur Jerman.

Untuk saya, tidak ada pemain yang benar-benar penampilannya menonjol di turnamen kali ini. Miro Klose, seorang striker yang sangat konsisten, walaupun bermain cukup baik, koleksi golnya berhenti di angka 5 karena terakhir mencetak gol melawan Argentina di perempat final. Ketatnya pertahanan tim-tim peserta ketika turnamen memasuki babak knock-out membuat para arsitek strategi masing-masing tim makin defensif dan berusaha tidak membuat kesalahan. Dari yang sedikit menonjol itu, saya lagi-lagi sepakat dengan Lineker, bahwa yang menonjol justru Buffon,
Cannavaro, Thuram, dan Makelele. Jangan lupakan juga Pascal Zuberbuehler (Swiss), yang tidak pernah kebobolan kecuali dalam adu penalti melawan kuda hitam dari Timur, Ukraina, dan Ricardo (Portugal), satu-satunya orang yang pantas menyaingi Buffon dalam perebutan gelar kiper terbaik.

Piala Dunia kali ini juga minim drama. Tidak ada pertandingan yang “breath-taking” hingga akhir pertandingan (pengecualian untuk partai semifinal Jerman vs Italia). Tidak ada pemain yang bisa cetak hattrick. Tidak ada kesebelasan yang mampu mengejar, atau bahkan menang setelah ketinggalan 2-0, misalnya. Atau setelah bermain hanya dengan 10 pemain. Minimnya kejutan dari negara-negara ketiga dalam sepakbola (dari Asia dan Afrika) makin mengurangi greget drama kali ini.

Saya khawatir, Final nanti malam bagaikan pertarungan final Liga Champion Eropa 2003 antara AC Milan v Juventus yang sama-sama takut menyerang dan lebih banyak memperkuat lini belakang. Kkalau itu yang terjadi, saya jamin
kita penonton bakal cepet jenuh dan akhirnya: NGANTUK!!! Jika itu yang terjadi, mungkin ini saatnya pencinta sepakbola menyerang mengumandangkan terompet sangkakala untuk filosofi sepakbola menyerang.

Dan kemudian…tunggu saja saat sepakbola menjadi sekarat kembali.

Malam Mencekam di Bantul

May 31st, 2006 by arjazz

malam ini saya akhirnya meluncur ke Bantul. Daerah yang selalu disebut sebagai "worst-hit district". Saya ke sana mau mensurvei salah satu keluarga besar Fakultas Hukum yang meskipun tidak jadi korban, tetapi rumahnya remuk dan mesti tinggal di pengungsian.

saya membonceng teman mulai mendekati "ground zero" melalui jalan imogiri. dari arah selatan iring-iringan kendaraan merayap karena jalanan cukup sempit. di kanan kiri banyak terlihat reruntuhan bangunan yang…luar biasa…baru pernah saya menyaksikan kerusakan separah ini dengan mata kepala sendiri. (mengingat sebelumnya saya selalu melihat sebuah bencana dari titik yang jauh sehingga tidak bisa melihat setiap sudut daerah musibah) tenda-tenda sederhana berdiri dari terpal. tanpa dinding. lantai tanah hanya berlapiskan tikar tipis. tidak ada listrik. hanya ada penerangan teplok.

makin ke selatan, kondisi makin parah. suasana malam sungguh mencekam karena banyak pula orang-orang jahat yang memanfaatkan kesempatan untuk berbuat kriminal. dan masyarakat yang sedang dalam kondisi lelah, frustasi, dan marah sangat gampang meluapkan emosi mereka kepada orang-orang yang dituduh maling. konon semalam saja ada mungkin 2 maling yang dibakar hidup-hidup di bantul.

namun ternyata kegelapan itu pun tidak selamanya. ada beberapa tenda pengungsian yang sudah cukup terang dengan listrik yang bersumber dari genset. tenda mereka pun cukup besar dengan dinding yang lumayan membuat pengungsi terlindung dari angin malam yang kejam.

terus terang saya nelangsa melihat begitu banyak penderitaan yang mesti dialami manusia. cuman karena saya laki-laki, saya berusaha tidak terlihat cengeng. (padahal apa salahnya ya, cowok nangis?). saya nelangsa membayangkan kalau itu terjadi pada keluarga saya. saya ingat, dulu ketika masih kecil, rumah saya terbuat dari kayu dan gedek. hampir pasti, kalau saja diguncang gempa seperti di jogja, maka akan hancur berkeping-keping tiada bersisa.

saya sadar, bantuan yang saya berikan tidaklah mampu membuat perubahan besar. tetapi saya yakin, jika niatan berbuat baik itu dimiliki setiap orang, orang-orang yang sengsara di sana akan segera tertolong. untuk kemudian bangkit. kata orang bijak, di dalam bencana, akan terlihat watak asli sebuah bangsa. selain kasus maling tadi–yang sedikit banyak menunjukkan bangsa kita kadang bermental kriminal, saya justru melihat inilah bentuk persaudaraan yang paling nyata yang pernah saya alami. bukan persaudaraan dan kesetiakawanan yang selama ini mungkin dipahami melalui "butir-butir mutiara" maupun berjam-jam penataran P4 yang membosankan. Untung sekarang sudah tidak ada.

Gempa di Jogja

May 27th, 2006 by arjazz

sudah 3 hari terakhir ini saya nginep di kampus karena sedang nggarap penerbitan buletin. biasanya jam 5-6 saya pulang ke kos. biasanya lagi sih saya ngelanjutin ngorok.

nah…pagi hari tanggal 27 mei 2006.pagi jam 5.45wib saya pulang ke kos dengan mata agak berat. segera setelah sampai kos, cuci kaki, saya masuk kamar untuk membaringkan badan. baru saja saya menggrendel (meng-catenaccio)pintu kamar tiba2 ada bunyi sangat keras dari atap kamar yang cor2an beton ini. sempat saya pikir itu suara pesawat terbang yang terbang sangat rendah. tapi sejurus kemudian, dengan kaki yang tidak bisa menjejak teguh ke lantai, bahwa ini sebuah gempa bumi yang dahsyat. saya tidak berpikir apa2 lagi selain keselamatan dan segera berlari ke luar rumah.

di luar rumah ternyata banyak orang juga keluar karena ketakutan. banyak ibu2 dan anak2 yang menangis. perasaan saya campur aduk. dengan lutut yang gemetaran, hati berdebar-debar dan napas tersengal-sengal. kata teman yang tinggal di lantai 2 kos2an, dia seperti baru naik kapal laut. bumi bergoyang-goyang bagai ombak samudra. bahkan untuk memasukkan kunci saja susahnya ngalahin gaya jurus mabok. segera saya mengabari orang2 di purwokerto bahwa saya selamat dengan sisa pulsa tersisa (kira2 Rp. 1900an).

jam 8.00wib saya pergi ke kampus mencoba cari tahu kabar teman saya yang saya tinggal sendirian tadi pagi. ternyata ia pun sempat panik. meskipun dengan gampang ia menghambur ke pelataran, ternyata sebagian pelataran yang dekan dengan
gedung kuliah berlantai 3 pun “diserbu” genteng2 yang berjatuhan dari langit. ternyata kawan saya tidak apa2. dan saya kemudian mengajak dia melihat2 keadaan karena konon banyak bangunan rusak.

saya dkk melihat saphir square, sebuah mall baru–berarsitektur cantik dengan kanopi di depannya, ternyata juga porak-poranda. kanopi raksasa itu runtuh ke tanah. demikian juga sebagian bongkahan tembok menimpa tanah di bawahnya.
terlihat dua mobil menjadi korban. remuk. saya tidak tahu apa ada orang di dalamnya. (kalo dinget2, ngapain jam 6 ke mall ya? oya di situ kan ada supermarket diamond yang buka 24 jam).

bergerak ke timur. sekumpulan gedung baru yang belum selesai dibangun milik Univ Islam Negeri rusak berat di bagian atap. dan di kampung di bawah jembatan terlihat beberapa orang sedang menggotong tetangganya yang entah luka entah sudah
meninggal.

makin ke timur, makin banyak lautan manusia. ternyata satu lagi mall menjadi korban. ambarukmo plaza (amplas) bolong di sana-sini. terlihat runtuhan tembok berserakan di jalanan. di bagian depan, restoran KFC pecah berantakan kacanya.
temboknya pun remuk di sana sini. dan di lantai teratas pun terlihat bolongnya tembok di bagian “sang raksasa ritel”: carrefour. teman saya dengan bercanda bilang, inilah keruntuhan kapitalisme. hidup sosialisme. saya tersenyum kecut menyadari rencana nonton film da vinci code senen besok pasti batal.

ketika berada di depan amplas itulah muncul teriakan dari arah barat, “air naik, air naik”. gerombolan masa di situ segera saja kehilangan rasionalitasnya dan menjadi sekumpulan orang yang panik dan berebut melaju ke arah timur. saya sih ngikut saja,
walaupun kemudian saya mikir bahwa jogja berjarak minimal 30km dari pantai, jadi dibutuhkan gempa bumi yang 3 kali lebih kuat dari gempa di aceh untuk memicu tsunami yang menyerbu hingga 30km. saya pun rada tenang. di jalan beratus2 orang
panik bergerak ke utara, mencari tempat lebih tinggi. ibu2 yang menggendong bayinya, anak2 kecil yang terpaksa tidak sekolah dan menangis, beberapa perempuan muda yang baru bangun tidur cuman memakai pakaian tidur mereka—ada beberapa yang bercelana pendek :), sambil menggendong boneka berteriak “air, air”. saya pun beberapa kali mengatakan ke orang2 di pinggir jalan, terutama kepada orang2 tua dan ibu2, untuk tidak panik karena tidak mungkin tsunami menyerbu hingga ke situ.

ternyata ring road utara, tempat saya keluar dari jalan2 tikus penuh kepanikan, juga sudah dipadati orang dengan berbagai kendaraan. di perempatan condong catur, lampu lalu lintas mati, kemacetan parah tidak terhindarkan. polisi yang cuma
berjumlah 4 orang tidak cukup berdaya mengatur lalin.

saya menuju ke kos lama mencoba menanyakan kabar kawan2. ternyata mereka baik2 saja dan sedang mendengarkan radio karena listrik mati sehingga tidak dapat nonton tivi. dari radio dilaporkan bahwa di jalan parangtritis km 23, 3km dari pantai,
tidak ada gelombang air. semuanya hanya isu. dari radio pula saya tahu bahwa kerusakan terbesar dialami Bantul. beberapa kecamatan seperti piyungan, sanden, bambanglipuro, dll mengalami tragedi terbesar karena beberapa orang dikabarkan
kehilangan nyawanya.

setelah pulang sebentar ke rumah, saya kembali ke kampus menemui dua teman yang terpencar ketika “rush” dalam kepanikan. di sana, beberapa teman dari majestic55–PAnya hukum yang baru pulang dari Wonosari, Gn Kidul, bahwa daerah
Patuk pun rata dengan tanah. Parah, kata mereka.

Di kampus, memanfaatkan wifi kampus, dengan laptop teman, kami mencoba mencari kabar karena listrik di kampus mati. dari detik.com diperoleh banyak kabar. kebanyakan kabar buruk. (terakhhir, saya menulis surat ini, korban sudah mencapai
2.459 orang tewas dan ribuan terluka, sumber detik.com dari satkorlak bencana diy).

saya pulang dan mandi. mandi pun saya tidak berani terlalu lama, karenanya saya mencicil sikat gigi dan keramas sebelum gebyar-gebyur cuci badan. maksud saya, jika pas saya sikat gigi ada gempa susulan, saya tidak harus berlari keluar hanya
memakai handuk saja. brilian kan?

bersama seorang kawan, saya pergi ke bandara adi sutjipto yang katanya ditutup. ternyata terminal keberangkatan domestik bandara runtuh dan menelan 2 orang korban jiwa serta 9 luka-luka. kawan saya yang mencoba escape dari jogja harus
kecele karena semua penerbangan dialihkan melalui solo.malam ini mungkin saya mau ngungsi ke kos lama. di sana lebih gampang melarikan diri ke pelataran. sedangkan di kos sendiri haru lari kira2 10 meter sebelum bisa
menemui halaman.

saya bersyukur saya selamat. Allah mengingatkan saya buat bangun pagi hari ini. mungkin lain kali saya tidak akan seberuntung ini. saya juga merasakan bagaimana dulu (mungkin) rakyat aceh melihat bencana di depan mata mereka. panik, bingung, sedih, campur aduk, deh!

kepada para korban, atau yang keluarganya, temannya, relasinya, dsb turut menjadi korban, saya turut berduka cita sedalam2nya. semoga kita bisa melewati cobaan ini dengan tabah. kita ini hanyalah hamba-Nya. amien.

salam!
masih di jogja mengingat saya punya pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. senen saya harus masuk kerja.

Pram

May 1st, 2006 by arjazz

pramoedya ananta toer….
apa arti nama itu bagi anda?
seorang kawan dari timur mengirim pesan pendek yang mengabarkan
kematiannya.
saya sendiri sebenarnya sudah tahu dari tayangan tivi mengenai
mangkatnya sastrawan ini. tetapi tampaknya nama ini pun memiliki jejak sendiri
di benak maupun perasaan sang pengirim.

saya pertama dengar nama pram ketika masuk sma. yang saya tahu adalah
bahwa karya-karya sastrawan ini dilarang kejaksaan agung karena dianggap
menyebarkan ideologi komunisme, marxisme, dan leninisme.
kemudian, seorang guru bahasa indonesia di sma makin membuat saya
penasaran mengenai pram. guru itu menceritakan di depan kelas mengenai novel
pram. khususnya tetralogi buru. ia bercerita dengan semangat tentang
minke, tentang perjuangannya melawan feodalisme, tentang cinta dua anak
manusia yang berbeda bangsa dan strata.
hal ini menambah rasa penasaran saya akan pram. apalagi tersiar berita
bahwa karya pram dinominasikan sebagai calon penerima hadiah novel
kesusastraan.
namun, hingga dua tahun bersekolah di sma itu, karya-karya pram belum
pernah saya baca. (pada saat itu saya juga tengah mengidolai budiman
sudjatmiko, anak muda yang berani melawan tirani, dan konon pram adalah
mentor mas iko–begitu budiman dipanggil)

baru pada tahun ketiga saya bersekolah, saya memiliki kesempatan untuk
membaca salah satu dari 4 karya monumental pram. saya lupa apakah itu
rumah kaca atau anak semua bangsa atau jejak langkah. saya juga kurang
tahu urutan tetralogi pram. namun yang terpenting bagi saya, rasa
penasaran akan karya pram sedikit terobati.

memang, membaca pram itu mengasyikkan. kata demi kata. kalimat demi
kalimat saya lahap. seakan saya tidak mau berhenti. gaya berceritanya yang
mengalir membuat saya terhanyut. cara berkisahnya yang bagai sedang
bercerita mengenai sebuah sejarah membuat saya terlena. (ketika kemudian
saya kuliah di UGM, saya membaca goenawan mohammad. menurut saya yang
gaya bertuturnya sekelas pram hanyalah GM).

kemudian juga saya tahu sejarah panjang kiprah politik pram. tentang
lekra, tentang manifesto kebudayaan (manikebu) dan surat kepercayaan
gelanggang-nya. tentang seni yang tidak berhenti semata-mata sebagai seni.

kini pram telah tiada. dengan segala kiprahnya yang kontroversial, bagi
saya, pram adalah salah satu yang terbaik. dulu mungkin pram pernah
begitu disia-siakan, dibuang ke pulau buru sebagai tahanan politik. namun
di tengah keterbelengguan itulah, mahakaryanya hadir. pram telah
memperkaya batin saya dengan karya-karyanya.

selamat jalan, pramoedya ananta toer.

Sepakbola

April 26th, 2006 by arjazz

Football, the most beautiful game on Earth.
Bill Shankly, Former Liverpool Manager

Mungkin udah tidak perlu saya jelasin lagi tentang apa itu sepakbola. Rasanya hampir semua makhluk bernama manusia mengenal permainan ini meskipun belum tentu menyukainya.

Dalam sepakbola, kita akan menemukan filosofi tentang hidup. Di situ ada gairah, semangat. Lalu ada juga strategi dan taktik. Ada sportivitas. Ada pula filosofi tentang kerjasama, saling menghormati, dan lain sebagainya. Pendek kata, if you see football, you see life.

Ada rasa gembira ketika tim kesayangan kita menang. Juga ada rasa kesal dan kecewa, mungkin juga rasa marah, kalau tim kita kalah. Apalagi kalah gara-gara gol lawan di menit terakhir pertandingan

Adrenalin saya meningkat kalau nonton sepakbola. Apalagi yang melibatkan tim kesayangan saya Manchester United dan tim nasional Indonesia (benci tapi rindu). Emosi saya turut berbaur bersama 11 orang jagoan pilihan saya di lapangan hijau. Ketika Rooney menembak dan hasilnya melebar, ingin rasanya saya menendang televisi di depan saya. Ketika Boaz Salossa terkapar dihajar bek Singapura hingga ditandu keluar lapangan, ingin  rasanya saya menonjok muka bek kurang ajar itu. (untunglah saya nggak main, kalau nggak, bisa bisa saya diganjar kartu merah).

Namun saya juga bisa jingkrak-jingkrak kayak orang nggak waras kalo kemudian Cristiano Ronaldo mengirim umpan silang yang kemudian dicocor Van Nistelrooy jadi gol. Atau ketika kecepatan Ilham Jayakesuma memporakporandakan pertahanan VIetnam yang sombongnya minta ampun.

Sepakbola, kadang rasional. Namun lebih sering irrasional. Dan ternyata irrasionalitas itulah yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat dunia. Siapa sih yang bakal nyangka, kalo Senegal yang bertahun-tahun jadi jajahan Prancis bisa ngalahin penjajah mereka yang juara dunia itu empat tahun lalu di Yokohama? Siapa sih yang tahu Ahn Jung-Hwan? Toh dari kepala pemain semenjana ini, bangsa Italia bisa dibuat tersingkir dan meradang sampe ada ide mengusir Ahn–yang kebetulan cari makan di Serie-A, layaknya FBR pengen mengusir Inul dari Ibukota.

Untuk itulah, menjelang Piala Dunia yang bakal digelar sebulan penuh dari 9 Juni ampe 9 Juli 2006 di negeri para pencinta bir, Jerman, saya cuman pengen memberi ucapan selamat buat para fans di luar sana. Jaga selalu kesehatan biar bisa pol nonton pertandingan dari pembukaan di stadion megah bernama Allianz Arena hingga final kelak di stadion Olimpiade Berlin.

Gamang

March 6th, 2006 by arjazz

Hari-hari ini ada begitu banyak pemikiran terlintas
Seorang teman, sebut saja namanya Q, mahasiswa angkatan 2002 yang sudah lulus, katanya mulai bekerja di sebuah kantor pengacara di Jakarta. Mungkin ada yang tahu, namanya Nindyo Utomo and Partners. Memang itu kantor pengacara milik seorang dosen Fakultas Hukum UGM juga.
Teman saya yang lain mengantar kepergian teman yang satu itu di stasiun Tugu, Jogja. Kemudian dia bercerita kalo si Q ini gaji awalnya aja udah 3,8jt sebulan. Kecil, katanya, untuk ukuran Jakarta.
Ada seorang teman lain, sebut saja A, yang juga pernah magang di kantor itu. Katanya gaji sebagai para-legal di sana mencapai 2,5 juta sebulan.

Terus terang, mendengar cerita-cerita itu saya menjadi sedikit iri. Iri karena mereka sudah cukup mapan menentukan pilihan kariernya, sudah bisa menghasilkan uang sendiri (dalam jumlah yang tidak kecil, tentunya). Namun kemudian, rasa iri itu berkurang dan berganti menjadi pemakluman. Maklum karena memang mereka sebagai mahasiswa dapat dikatakan mahasiswa yang di atas rata-rata. Pendek kata, they deserve it!!!

Saya, yang merasa sebagai mahasiswa yang biasa-biasa saja—jika tidak mau dibilang bodoh mengingat sampai saat ini IPK saya belum juga menembus limit 3.00, tentu saja cuma bisa membayangkan diri saya yang berada di posisi si Q.

Di sinilah saya kemudian merasa gamang dengan pilihan karier saya, juga masa depan saya secara keseluruhan. Sampai saat ini, ketika saya hampir 3 tahun kuliah (4 tahun jika dihitung dengan yang tidak selesai), saya belum juga mantap akan sebuah pilihan. Kemudian saya teringat kata-kata sohib saya Ipung. "Kepalamu dipenuhi ide-ide, ide besar, bahkan. Tapi saya nggak yakin kamu bisa mewujudkan kesemuanya". Mungkin Ipung benar. Karena terlalu banyak ide, saya justru malah tidak bisa memilih dan menetapkan hati. Apa yang sebenarnya saya cari? Mau jadi apa saya? Dalam 10 tahun ke depan, siapa saya?

Yang jelas, satu pilihan sudah saya coret dari pemikiran. Jadi PNS. Maaf, dengan segala hormat kepada teman-teman atau siapa saja yang sudah atau mau jadi PNS. Ayah saya jadi PNS hampir 20 tahun dan kemudian memilih pensiun dini pada usia 45 tahun. Ayah saya bilang, jadi PNS artinya kamu bersiap membentuk mentalmu menjadi mental pesuruh. (Sekali lagi maaf, saya siap dihujat karena ini). I think he had a point. Dia meneruskan, jangan cuma mencari kerja, tetapi ciptakanlah lapangan kerja. Negara kita butuh orang seperti itu. Dan lagi, jangan mau cuma jadi buntut macan, bapakmu cukup bahagia meski cuma jadi kepala kucing. Ya kepala kucing. Hanya mengeong, kalau menggigit pun pasti tidak akan sakit. Tapi kita kan menggigit. Tidak cuman dikibas-kibaskan tanpa upaya.

Hmmmmmmm…
Dalam banyak sisi, memang pemikiran ayah saya menempel kuat di kepala saya.
(Tapi sebenarnya ada pengecualian: jadi dosen. Itu salah satu idealisme saya. Saya ingin menjadi pendidik.)

Namun kegamangan ini cukup terobati oleh kata-kata seorang kawan, Rahmat. Dia bilang, tidak usah merasa iri dengan teman-teman. Rencanakan sendiri masa depanmu. Lantas saya jadi ingat buku Paulo Coelho yang judulnya Sang Alkemis (The Alchemist. Sekedar OOT, saya pikir Dan Brown dalam menulis buku Da Vinci Code sangat terinspirasi buku ini. Coba anda baca kedua buku itu dan bandingkan). Inti cerita itu ialah tentang menemukan "legenda pribadi" kita sendiri. Sebuah legenda pribadi, sebuah jalan hidup kita sendiri. Dan itulah yang mesti saya temukan. Soon or later.

Namun, jujur, hingga saat ini, kegamangan saya masih belum reda.