An Unconvenient Truth: Hipokrisi Gore dan Penyelamatan Bumi
March 6th, 2007 by arjazzAn Incovenient Truth, sebuah film dokumenter yang memenangi 2
penghargaan Oscar sebagai Best Documentary- Features dan Best Original
Song. Film ini dibintangi hanya oleh 1 orang, yakni eks Wakil Presiden
AS (juga eks Calon Presiden AS), Al Gore.
Dari awal hingga akhir, film ini berisi adegan Gore yang sedang
menjelaskan fakta-fakta mengenai bumi kita tercinta ini di depan
puluhan audiens. Isu utamanya adalah tentang pemanasan global. Dari 100
menit durasi film ini, hampir 80-90 menit diantaranya diisi "khotbah"
Gore yang berisi data-data kondisi lingkungan terkini, dan dibandingkan
dengan kondisi di masa lalu.
Di AS, di Kutub, di Peru, di Mongolia,
dan di tempat-tempat lain di dunia, terlanda efek dari meningkatnya
suhu bumi ini. Gore bercerita panjang lebar mengenai isu ini, didukung
dengan data-data akurat dan presentasi yang meyakinkan dan cukup
mengundang senyum karena lumayan jenaka.
Sepanjang film, saya mencoba untuk tidak melihat siapa yang bertutur di film ini. Saya berusaha menghilangkan sosok Al Gore
dari mata saya. Saya hanya berpikir tentang isu yang disampaikan.
Mengapa? Karena untuk saya, Gore itu hipokrit alias munafik. Hipokrit,
karena, pada saat ia berkuasa sebagai wakil Bill Clinton
tahun 1996-2000, rezim AS di bawah Clinton toh tidak mau menandatangani
Protokol Kyoto yang bertujuan mengurangi pemanasan global. Alasannya,
Protokol Kyoto akan memperlambat laju pertumbuhan ekonomi AS. Selaku
Wapres, Gore juga memimpin Kongres AS. Tapi apa? Setidaknya, tidak ada
produk hukum federal yang secara signifikan menunjukkan dukungan
terhadap isu lingkungan. Yang menarik dari "khotbah" Gore tersebut, ada
3 kesalahan berpikir (misconception) yang selama ini menghuni alam
pikiran kita, yaitu:
1. Bahkan para ilmuwan pun belum menyepakati tentang bahaya pemanasan global ini.
Dalam film tersebut dijelaskan bahwa dari 928 jurnal ilmiah (10 persen
dari total seluruh jurnal ilmiah yang diterbitkan di AS), tak ada
satupun jurnal yang tidak mengamini adanya bahaya akibat pemanasan
global. Pendek kata, ilmuwan-ilmuwan dunia sudah menyadari bahaya ini.
Hanya saja, ternyata dari 600-an terbitan populer (koran, majalah),
lebih dari 58 persen mengarah pada suara yang sama, yakni bahwa isu
pemanasan global adalah isu masih masih dipertanyakan. Gampang
ditelusuri bahwa memang ada upaya dari para pelaku ekonomi yang tidak
ingin diganggu isu-isu lingkungan berusaha membentuk opini masyarakat
melalui media.
2. Memperhatikan lingkungan sama saja dengan membiarkan ekonomi mandek.
Sepertinya, kita lupa satu hal, bahwa ekonomi juga tidak akan berjalan di
atas planet yang porak poranda akibat kerusakan lingkungan dan
pemanasan global. Isu inilah yang selalu diangkat oleh AS dalam
penolakannya terhadap Protokol Kyoto. Padahal penolakan itu tidak
berdasar. Teknologi baru yang memungkinkan kita mengurangi penggunaan
bahan bakar fosil sudah sangat mungkin dikomersialkan. Energi
alternatif terus dikembangkan untuk menghidupi urat nadi industri masa
kini. Jadi, apa sebenarnya mau AS itu?
3. Kita
sudah mengetahui dan menyadari bahaya lingkungan ini, tapi, persoalan
sudah terlalu besar dan kita sudah tidak bisa berbuat apapun.
Percayalah, sesedikit apapun sumbangsih kita bagi planet Bumi kita ini, sangat berguna dalam penyelamatannya.
Nah, coba kita kembali ke sosok Gore itu sendiri. Ternyata, dari
sejumlah tulisan yang saya cari di internet, diketahui bahwa Gore punya
sebuah mansion (villa) yang berada di Nashville, yang mengkonsumsi
listrik sebanyak 221.000 kilowatt hour (kWh) pada tahun 2006. Jumlah
ini di atas rata-rata konsumsi rumah tangga AS yang hanya 10.656 kWh
per tahun! Atau lebih dari 20 kali lipat! (sumber: http://www.tennesse epolicy.org/ main/article. php?article_ id=367 )
Beberapa bagian film ini cukup mengganggu saya dengan penggambaran Gore
dalam sejumlah kesempatan terpisah. Sepertinya, Gore ingin tebar pesona
dalam film ini. Ia ingin menampilkan citra mantan politisi yang kini
sudah undur diri dan mencoba aktif "mengedukasi" masyarakat. Saya
kadang jadi curiga bahwa film ini adalah kampanye pendahuluan dari Gore
yang masih berambisi untuk jadi Presiden AS, entah kapan waktunya.
Yang agak parah menurut saya adalah Gore yang banci karena tidak berani
mengkritik perusahaan-perusaha an AS yang telah turut serta dalam
perusakan lingkungan secara masif di seluruh dunia, utamanya di
negara-negara berkembang seperti Indonesia
dan negara-negara dunia ketiga lainnya. Hanya satu sentilan kecil ia
tujukan untuk Exxon. Sisanya? Sama sekali tidak ada! (Adalah sebuah
kenyataan bahwa Gore pun berasal dari kelompok elit politik AS yang
berkembang dari dinasti-dinasti politik yang tentu saja didukung
kucuran licin uang minyak dari perusahaan-perusaha an seperti Exxon,
Chevron, Caltex dan lain sebagainya, yang berjabat erat dengan para
politisi tadi, baik dari Demokrat maupun Republik).
Jika
Gore sedikit lebih berani dan benar-benar tidak memiliki agenda
terselubung di balik film ini, seharusnya ia dan timnya berani
mengelaborasi fakta-fakta kerusakan lingkungan di dunia ini yang
diawali standar ganda perusahaan dan Pemerintah AS saat berbisnis di
negara-negara lain.
Namun lepas dari beberapa kekecewaan terhadap film ini, harus saya
akui, pesan yang disampaikan Mr Gore cukup sampai. Bumi, adalah
satu-satunya rumah kita. Ke mana lagi kita akan tinggal jika planet
tercinta ini rusak? Kenapa kita tidak melakukan upaya-upaya yang,
meskipun kecil, bisa turut memberi sumbangsih bagi penyelamatan bumi
ini. Menghemat listrik, mendaur ulang kemasan makanan, minuman, dan
kertas kerja, mengurangi polusi CO2 dari kendaraan, dan sejumlah
tindakan lainnya.
Mari sayangi Bumi kita. Inilah rumah kita.
Bacaan lain:
Situs film An Inconvenient Truth
http://www.climatecrisis. net
Protokol Kyoto
http://unfccc. int/resource/ docs/convkp/ kpeng.html
http://en.wikipedia .org/wiki/ Kyoto_Protocol
http://ec.europa. eu/environment/ climat/kyoto. htm
Pemanasan Global
http://www.climateh otmap.org/
http://www.epa. gov/climatechang e/
http://www.worldvie wofglobalwarming .org/
