Archive for January, 2006

Catatan Perjalanan ke Bumi Borneo

Tuesday, January 31st, 2006

Bagian Pertama
First time-flyer

Kamis malam (26 Januari 2006)
22.15WIB
Sebuah malam yang dingin di kampus tua. Sebuah telepon berdering. Tertulis "place called home". Ternyata mamah yang telpon. Sebuah berita duka. "Ar, pakde meninggal dunia di Banjarmasin. Baru saja. Sepertinya pakde cuman menunggu kedatangan bude dari Jawa". Saya cukup kaget meskipun saya tahu Pakde saya sudah cukup lama masuk rumah sakit karena kanker paru-paru yang cukup parah. Cuma itu kabar yang beliau sampaikan. Setelah berbasa-basi sebentar, telepon ditutup.

Jumat (27 Januari 2006)
05.55WIB
Saya baru terbangun. Masih di kampus. Masih berkutat dengan kerjaan yang nggak selesai-selesai (sebenarnya bukan kerjaan saya, tapi karena temen-temen butuh support, mau nggak mau saya mesti menemani mereka. Lumayan ada internet gratis via wifi di situ). Kembali sebuah telepon dari rumah. "Mas, kamu wakilin keluarga ke Kuala Kapuas (kira-kira 100 KM dari Banjarmasin). Sebenernya kalo papa belum pulang dari Jakarta, trus langsung. Tapi ini udah kadung di Purwokerto. Kamu aja ya? Nanti tak kirimi ongkos". Saya cuman mengiyakan. Sedikit khawatir, karena hari itu saya punya banyak urusan yang mesti diselesaikan. Diantaranya bayar kuliah (konon ngantrinya lama) dan beli barang-barang titipan seorang teman (padahal nggak cuman di satu toko).
08.00WIB
Saya sudah selesai bayar kuliah dan registrasi. Untung aja nggak perlu antri. Sebab emang jam 7.30 loketnya baru aja buka. Saya ke travel biro tanya apa ada tiket ke Banjarmasin hari itu. Ternyata masih ada. Penerbangan siang itu jam 12.50 dengan Mandala. (Hmmmm….agak kawatir juga. Inget kejadian di Medan). Sekalian saya pesan tiket return buat Minggu. Trus saya bayar itu tiket. Wah mahal juga nih. Tapi saya maklum karena pesennya mendadak gitu. Trus juga pas hari-hari liburan.
09.00WIB
Saya keluar dari rumah sudah mandi. Mesti tangkas nih. Banyak yang mesti dikerjain.
Segera saya menuju kampus. Finalisasi registrasi. Belajar dari pengalaman, gara-gara administrasi nggak beres, saya di-del sebanyak 10 sks alias 5 MK. Untung cepet juga selesainya. (Agaknya saya beruntung hari ini).
Seleai itu segera saya ke rumah Angga (rumah sodara) yang kebetulan di lagi di Jogja. Saya mau ngajakin dia beli-beli barang.
11.05WIB
Selesai sudah urusan kulakan ini. Saya antar lagi Angga ke rumahnya dan saya pulang ke rumah buat nyiapin barang-barang yang mesti dibawa ke Banjar. Untunglah saya cowok, jadi bisa cepet nyiapin semuanya. 15 menit smuanya beres. Saya keluar dari rumah jam 11.25. Menuju kampus lagi, minta temen nganter ke bandara.
11.40WIB
Cuaca Jogja hari itu mendung. Agak gerimis. Kekhawatiran saya makin menjadi-jadi. Ini adalah kali pertama saya terbang, jadi agak khawatir berlebihan (maklum orang desa, baru pertama naek pesawat, jadinya tegang!). Dalam hati saya berdoa, jangan hujan donk…. Ntar kalo ujan landasannya jadi licin. Ya Allah….aku belum mau mati. (Sumpah asli tegang banget. Saya nggak bisa nutupin fakta bahwa saya belum pernah naik pesawat sebelumnya. Saya nggak berusaha sok tenang seolah saya sudah berpengalaman sebelumnya…Apalagi temen saya ngeledek "Ya, apa pesen terakhirmu?". "Bathukmu!", saya jawab.
12.10WIB
Saya check-in. Saya berkali-kali ditelepon dari Kalimantan. Katanya saya satu penerbangan saya sodara yang satu lagi dari Jogja juga. Setelah mencari-cari agak lama, saya ketemu juga sama Mbak yang satu itu.
Tunggu punya tunggu, pesawat Mandala yang akan saya tumpangi belum juga datang. Saya masih saja tegang. Untung sedikit berkurang karena langit saya lihat agak kembali cerah.
12.50WIB
Pesawat yang ditunggu datang. Kekhawatiran saya makin berkurang melihat pesawatnya ternyata berbadan cukup besar. Boeing 737-400. Lega juga. Dan nggak lama, saya akhirnya boarding juga. Tempat duduk saya di bagian belakang. Nggak jauh dari lavatory, jadi kalo ntar mabok udara, dan nggak sempat minta kantong muntah, saya bisa lari ke toilet. Hehehehe.
13.10WIB
Flight attendant memberi serangkaian instruksi untuk keselamatan dan kenyamanan penerbangan. Saya perhatiin aja para pramugari-pramugari yang cantik-cantik itu. (Meski buat saya, cuman ada satu pramugari yang lebih cantik dari yang lain. Hehehe).
Selesai instruksi diberikan, pesawat menuju ujung landas pacu.
Dalam hitungan detik, pesawat melaju sangat cepat. Dada ini terasa ditekan. Adrenalin saya mulai menaik. Bagian depan pesawat makin terlihat tinggi (oh…pesawat ini pasti mulai menanjak). Ketegangan mulai memuncak ketika pesawat mulai mengudara. Saya inget cerita papa katanya kalo naik pesawat pas tinggal landas, pesawat serasa berhenti di udara. Wah benar-benar ketegangan saya memuncak. Adrenalin naik ke ubun-ubun.
Kira-kira sepuluh menit kemudian, keadaan menjadi tenang. Pesawat sudah terbang mendatar. Ketegangan saya mulai mencair dan saya sudah lebih teratur bernapas. Namun perlahan kuping saya mulai terasa sakit. Pasti karena perbedaan tekanan udara. (Lagi-lagi saya mengumpat diri sendiri: "dasar ndeso, naik pesawat pertama kali tubuh langsung bereaksi negatif").
15.30WITA
Pesawat mendarat di Banjarmasin. Ternyata bandara Syamsuddin Noor luas juga. Lebih luas dari Adi Sutjipto. (Dari ujung apron ke terminal saja harus dijemput pake bis besar.) Inilah kali kedua saya menginjakkan kaki di bumi Borneo setelah sebelumnya tahun 1999 (ketika saya kelas 2 SMA) ke sini memakai kapal laut (Wah, saya sudah naik kelas nih. Pikir saya menahan geli).
16.50WITA
Proses klaim bagasi mbak yang bareng saya sudah kelar. Agak lama dan semrawut karena kebetulan ada rombongan jemaah haji yang baru turun juga. Di pintu keluar, suami si mbak yang menjemput kami. Segera saja kami keluar kompleks bandara dan meluncur menuju Kuala Kapuas.
Setelah hampir tujuh tahun sejak saya menjejakkan kaki di sini, ternyata jalan Trans-Kalimantan yang saya lewati sudah cukup mulus. Berbeda dengan tahun 1999, dimana masih ada satu ruas jalan (kira-kira 3-4KM) yang belum diaspal, jalan yang saya lewati kali ini terhitung sangat enak dijalani. Meskipun di beberapa tempat agak ada bolong-bolong, secara umum, kemajuan sarana jalan di sana sudah cukup baik.
18.00WIB
Saya sudah sampai di Kuala Kapuas. Sebuah kota kecil. Menurut saya malah lebih kecil dari Sokaraja, sebuah kota kecamatan di timur Purwokerto. Segera saya masuk rumah duka. Saya melihat jenazah pakde sudah dibaringkan di atas ranjang. Mukanya bersih. Saya melihat keikhlasan di mata anak-anaknya, kakak-kakak saya.
Setelah saya selesai mandi, saya lihat keluarga duka tengah bersiap-siap menyelenggarakan acara kebaktian penghiburan (keluarga Pakde saya beragama Kristen). Saya yang berbeda, hanya duduk di dalam rumah, mencoba ngobrol dengan mbak saya, anak tertua almarhum. Tidak terlihat rasa sedih di air mukanya. Dia justru merasa rela dan puas telah merawat ayahnya secara baik hingga hari ia meninggal. Sebagai anak tertua, ia meraasa memiliki kewajiban untuk melakukan bakti hingga saat-saat terakhir hidup ayahandanya.

*catatan: ada perbedaan waktu antara Banjarmasin yang menggunakan Waktu Indonesia Tengah (WITA) dengan Kuala Kapuas yang menggunakan Waktu Indonesia Barat (WIB). Jadi, walaupun Banjar berada di Kalsel dan Kapuas di Kalteng, waktu di Banjar satu jam lebih cepat daripada di Kapuas (dan Jogja, serta Purwokerto)
(end of part one)