Bagian Kedua
Sebuah Pulau yang asing (meski tak cukup asing)
Jumat, 27 Januari 2006
21.00WIB
Suasana di Kapuas makin sepi. Hujan turun dengan deras. Tapi ternyata hanya sebentar.
Namun ternyata keramaian malam itu baru saja akan dimulai di rumah duka. Orang-orang yang ada di situ mulai menggelar permainan judi. Semuanya bermain judi kartu. Wah tentu saja saya kaget. Kalau di Jawa, orang main judi biasanya kalo ada hajatan. Lha ini main judi di tempat orang meninggal? Wah aneh benar rasanya, orang lelayu kayak orang mbarang gawe.
Saya hitung, ada sekitar 5 ajang permainan.
Mbak saya bilang, hal seperti ini memang biasa di sini. Adat di sini memang seperti itu. Katanya, sekarang ini sudah agak mendingan. Dulu, lanjutnya, ketika ada oran meninggal, satu jalan di depan rumahnya diisi oleh beragam permainan judi. Mulai dari judi kartu, dadu, sampai rolet aja tersedia, katanya. Bahkan yang ekstrem, biar jadi alasan buat menggelar judi, mereka memasang batang pisang (gedebog) yang diselimuti layaknya orang mati biar dikira sedang ada yang berduka!
Jangan dikira perputaran uang di ajang judi kampung itu kecil. Nilai perputaran uang semalam bisa mencapai jutaan rupiah!
22.00WIB
Saya masih saja ngobrol sama mas saya yang tinggal di Jakarta. Kami bercerita tentang dunia usaha. Dia bercerita mengenai keluh dan peluhnya bekerja di Jakarta. Kisah kehilangan HP pas dulu buka konter HP, cerita kehilangan motor yang baru berusia 1 bulan, hingga cerita soal showroom peralatan dapurnya yang sekarang cukup berkembang lengkap dengan karakter macam-macam konsumen yang cerewet-cerewet.
Saya juga bercerita bahwa saya berniat membangun sebuah usaha. Tepatnya membuka toko. (Toko apa? tunggu tanggal mainnya). Dia banyak membagi pengalamannya selama menggeluti dunia usaha dan memberi nasihat-nasihat yang menurut saya cukup penting sebagai bekal saya kelak mengarungi dunia usaha.
23.00WIB
Masih di tengah ajang judi, saya tertidur pulang di ruang tamu hanya beralaskan tikar. Untung masih ada bantal! Dan Pakde, masih "terbaring" nyenyak di ranjangnya. Bersemayam dalam damai.
Sabtu, 28 Januari 2006
07.00WIB
Saya terbangun. Ternyata para pelaku judi kampung itu sudah bubar semua. Saya kurang tahu apa mereka tidur semalam atau tidak. Segera saja saya menuju rumah mbak yang satu lagi untuk mandi karena baju-baju ganti saya tinggal di sana. Jaraknya hanya sekitar 300 meter.
08.30WIB
Selesai mandi dan sekedar berbasa-basi serta nonton tivi, saya pergi lagi ke rumah duka.
Kemudian saya diajak sarapan di luar oleh mas saya. Segera saja saya dan mas saya itu menuju daerah kota menggunakan sebuah skuter Vespa.
Pagi itu kota Kapuas terlihat ramai. Ada sepeda motor, mobil, dan –yang ajaib– becak! Ajaib? Iya ternyata tidak cuma Jawa yang memanfaatkan kendaraan bertenaga manusia itu sebagai sarana angkutan.
Kami masuk ke warung yang menjual nasi kuning. Ada lauk telur bumbu pedas, lalu ada ikan air tawar dan ada ayam serta daging. Saya tanya ke mas apa mengandung daging babi? Ternyata tidak ada daging babi di jual di situ.
(Saya menolak makan daging babi bukan hanya karena agama mengharamkannya, tapi terus terang saya enggan karena melihat hidup babi ketika di peternakan dan wujud dagingnya).
09.30WIB
Selesai makan kami ke pasar. Kami beli rambutan. Eh ini anehnya, orang jualan di sini bukan kiloan tapi bijian. Jadi bukan sekilo berapa, tapi 10 biji (seiket) berapa. Kami beli beberapa iket rambutan. Cukup deh kalau dimakan orang 3-4 sampai kenyang
10.00WIB
Kami menuju makam yang disiapkan untuk pakde. Dan ini lagi anehnya. Di Kapuas sebuah makam nggak bisa terlalu dalam. Lubang untuk pakde saya saja cuman sekitar 1 meter kurang dalamnya. Maklum aja di Kapuas kan tanahnya rawa-rawa jadi kalau terlalu dalam (six feet deep) ya malah jadi sumur.
Lubang itupun mesti ditutup di bagian dasar, samping kanan, dan samping kiri pakai cor-coran. Maksudnya biar nggak rembes nanti airnya.
Yang mengerjakan pembuatan makam itu ternyata orang Jawa. Maka saya dan mas saya ngobrol pake bahasa Jawa. Dari logatnya saya tahu bapak itu orang Jawa Timur. Saya perkirakan bapak itu sudah lama tinggal di sini karena dia sudah cukup fasih berbicara bahasa Manyan (bahasa setempat)
Oia, lubang yang kurang dari 1 meter itu sudah agak biasa. Malah di situ ada sebuah makam orang Manado (saya tahu dari namanya yang bermarga Tumewu) yang petinya cuman numpang di atas tanah! Jadi peti itu kemudian ditembok.
11.00WIB
Pulang ke rumah, ternyata acara kebaktian pagi di situ sudah selesai. Saya habiskan siang itu dengan tidur-tiduran dan ngobrol.
Eh ternyata saya ketiduran beneran. Dan akibat tidur itu sebuah bencana datang. Kacamata saya pecah diinjak orang! Nggak tahu deh siapa yang memecahkan kacamata saya yang dulu juga pernah pecah diinjak saya sendiri. Mungkin ponakan-ponakan saya yang berlari-lari di situ yang menginjak. Kacamata itu memang di lantai karena saya selalu melepas kacamata kalau tidur.
Huuh! Sedihnya. Lagi nggak ada duit malah pecah kacamata!
Tapi saya sedikit terhibur karena dua kakak saya mengajak saya nanti sore pergi ke tepian sungai Barito untuk beli rambutan dan (ini dia kesukaan saya) durian! Nggak sabar menanti sore.
16.00WIB
Saya pergi bersama mbak saya dan anaknya serta mas saya yang mengemudi mobil pikap.
Cuma butuh 10 menit untuk sampai ke tepian sungai Barito. Saya lihat di situ para penjual rambutan dan durian berkumpul menawarkan barang dagangannya.
Segera saja saya dan mas saya menawar beberapa durian sementara mbak saya menawar rambutan (untuk oleh-oleh di Jawa, katanya). Saya agak kecewa mengetahui ternyata durian di sini tidak murah. Meskipun masih lebih murah dari harga di Jawa, harga sebuah durian besar mencapai 15 ribu sampai 20 ribu rupiah.
Tapi nggak papa, yang penting puas. Segera kami makan sebiji durian berukuran besar seharga 20 ribu. Wah enak juga. Creamy and delicious!!! Saya yang memang penggemar berat durian merasa menemukan hari saya. Kami makan ditemani angin yang cukup deras di pinggiran sungai Barito. Lebar sungai Barito mungkin 300 meter. Sungai selebar ini bakal sulit dijumpai di Jawa.
Ternyata durian tadi bukan durian terakhir yang kami makan. Mbak saya juga membelika durian yang berukuran lebih kecil. Dia beli 4 buah cuman buat saya dan mas saya. Jangan salah sangka, meskipun kecil, rasanya justru lebih manis dan legit dari yang besar tadi. Rasanya durian itu lumer di mulut saya!
(Sayang sekali pemandangan di "pasar" buah dadakan itu tidak bisa saya rekam melalui kamera karena kamera saya tertinggal di Jogja. Padahal suasana Sabtu sore itu benar-benar nyaman untuk dinikmati)
17.30WIB
Saya pulang ke rumah dengan rasa puas. Juga dibelikan rambutan dalam jumlah banyak. Saya khawatir berat rambutan itu bakal melebihi 20kg, batas maksimal bagasi di pesawat. Tapi kata mbak saya, nggak mungkin lebih dari 20kg.
Sebenernya pengin juga sih bawa durian ke Jawa. Rasa nikmat di lidah masih terasa. Tapi saya takut nanti ketahuan petugas bandara dan ditolak masuk bagasi dan disuruh dibuang. Kalau begitu bakal mubazir kan?
(Sebenernya ada beberapa trik yang bisa memungkinkan kita membawa durian di pesawat. Kita bisa membungkus durian dalam wadah plastik (tupperware) yang ketat. Kemudian pada celah-celahnya kita lakban. Bisa juga untuk menghilangkan baunya kita taruh bubuk kopi, karena kopi bisa menyamarkan bau yang kuat sekalipun. Meski saya tahu itu bisa diakali saya tetap saja nggak berani bawa durian ke pesawat)
19.00WIB
Setelah selesai mandi saya menyaksikan orang-orang sibuk menyiapkan acara kebaktian penghiburan malam. Duh…hari itu mereka memasak daging babi. Untung mas saya tanggap dan mengajak saya makan di luar beli ayam atau bebek goreng.
Setelah berputar-putar sejenak, kami menemukan tempat makan ayam itu. Dari namanya, saya tahu yang jualan orang Jawa Timur (hmmm banyak juga orang Jawa berdiam di sini). Maka saya pesan ayam goreng pakai bahasa Jawa.
Enak juga makan makanan pedas di sini. Selama ini mbak saya nggak pernah masak pedas. Bahkan setahu saya mereka (orang Kapuas) tidak pernah memasak memakai cabai.
Uh ternyata mahal juga makan ayam di kampung orang. Satu biji ayam goreng komplit plus dua gelas es teh habis 9500 perak! (Ternyata trik memakai bahasa ibu—Jawa kepada sesama orang Jawa tidak bisa membuat mereka menjual murah.Hehehehe)
20.00WIB
Kami pulang ke rumah. Ternyata di rumah orang-orang sudah menunggu karena ada acara memasukkan jenazah ke peti. Semua anak-anak dan saudara-saudara menyaksikan. Saya cuman bisa melihat dari luar kamar.
23.00WIB
Saya tertidur pulas dan nggak sempat menyelesaikan nonton acara American Idol. Hehehehe.
Minggu, 29 Januari 2006
07.30WIB
Saya mandi pagi karena saya disuruh bersiap pagi-pagi. Katanya kami diminta berfoto di depan jenazah pakde. Bukan itu saja, saya harus cabut dari Kapuas jam 11.30 karena harus mengejar penerbangan dari Banjarmasin. Dengan begitu, saya nggak akan sempat menyaksikan pemakaman pakde karena prosesi pemakan dimulai jam 12.00. Sebenarnya saya agak tidak enak karena tidak bisa ikut sampai selesai. Tetapi mengingat saya sudah pesan tiket return Banjar-Jogja, saya tidak bisa berbuat banyak.
Pagi itu juga saya mengepak rambutan-rambutan yang akan saya bawa pulang ke dalam tas. Total tiga buah tas anyaman besar terisi dengan rambutan. Satu untuk teman-teman di Jogja, dua sisanya untuk keluarga di Purwokerto karena saya langsung ke Purwokerto setelah tiba di Jogja.
11.00WIB
Saya berpamitan kepada keluarga di Kapuas dan meminta maaf tidak bisa hadir sampai acara pemakaman selesai. Saya juga menyampaikan maaf dari keluarga tidak ada yang hadir dan cuman mewakilkan kepada saya. Saya meminta mereka mengikhlaskan kepergian pakde. Karena hanya dengan keikhlasan, duka dapat segera dihapus dan yang meninggal pun dapat menjalani kehidupan berikutnya dengan tenang.
(Perhitungannya, saya berangkat 11.30WIB (12.30WITA) dan sampai di Banjar 2 jam kemudian (14.30WITA) dan pesawat akan berangkat pada 15.30WITA)
Saya dicarterkan mobil. Wah nyaman, mobilnya ber-AC jadi bisa tidur di perjalanan. Jalanan trans Kalimantan yang relatif mulus membantu saya rehat sejenak.
14.30WITA
Saya sampai lagi di bandara Syamsuddin Noor, Banjarmasin. Tepat waktu 2 jam dari Kapuas. Agak kerepotan karena menenteng 3 tas besar penuh berisi rambutan, saya check-in. Ternyata bagasi saya seberat 18kg. Jadi masing-masing tas rata-rata 6kg. Hahahaha.
15.35WITA
Setelah cukup lama menunggu pesawat yang akan menerbangkan saya ke Jogja datang juga. Kembali saya harus naik bis untuk menuju apron tempat pesawat diparkir. Dalam waktu kurang dari 10 menit saya sudah masuk pesawat. Meskipun sudah tidak setegang waktu berangkat, tetap saja saya masih khawatir naik pesawat.
Ternyata dari rekan sebaris kursi ada satu wajah yang cukup saya kenal. Dia adalah Arie Sudjito, dosen FISIPOL UGM, tetangga fakultas. Katanya ia baru saja menjadi pembicara seminar di Banjarmasin tentang isu Good Governance.
Ketika pesawat mulai menuju landas pacu, hidung saya mencium bau yang familiar. Hmmmm….durian! Kurang ajar, ada yang bisa meloloskan durian ke atas kabin! Tahu begini, saya nekat saja bawa durian! Huh! Asem!
Setelah saya endus-endus lagi, saya tahu kalau bau kuat itu berasar dari tas di atas kepala saya. Harumnya bau durian menusuk hidung membuat saya agak lupa pada ketegangan tinggal landas. (Saya nggak ngerti kenapa orang Eropa nggak suka durian. Menurut saya, durian itu buah dari surga. Hehehehe)
15.50WIB
Pesawat sudah berada di atas Yogyakarta. Saya lihat cuaca cukup mendung. Awan hitam banyak menghalangi pesawat membuat banyak goncangan-goncangan kecil. Kembali saya tegang. Apalagi badan pesawat sempat oleng ke kanan-kiri sebanyak dua kali! Lagi-lagi saya cuma bisa berdoa. (uh ndeso-ku kok nggak ilang-ilang sih?)
16.05WIB
Pesawat sudah mendarat dengan selamat di Adi Sucipto. Proses klaim bagasi cuma memakan waktu 20 menit. Saya sudah bisa keluar membawa 3 tas besar oleh-oleh di troli.
Saya pesan taksi ke kampus karena motor saya masih di kampus.
16.45WIB
Sampai di kampus, segera saya serahkan satu tas besar rambutan itu untuk teman-teman. Teman-teman yang sedang stress mikir pembuatan buku sejarang jadi sumringah melihat oleh-oleh yang saya bawa.
Pesenan gudeg kendil yang saya titipkan ke teman juga sudah dibelikan. Lansung saja saya pulang ke rumah buat nyiapin apa-apa aja yang mau dibawa ke Purwokerto.
19.00WIB
Menunggu di Gamping dengan hujan yang sangat deras mengguyur. Sudah 1 jam saya menunggu belum ada bis Patas AC yang biasa saya tumpangi.
Akhirnya bis yang ditunggu datang juga! Segera saja saya naik dan jatuh tertidur ketika bis baru di sekitar Wates. Saya terbangun sudah di pertigaan Buntu.
22.30WIB
Akhirnya saya sampai di Purwokerto juga. Huh melelahkannya perjalanan non-stop selama 10 jam dari Kuala Kapuas-Banjarmasin-Yogyakarta-Purwokerto!
(the end)