Gamang
Monday, March 6th, 2006Hari-hari ini ada begitu banyak pemikiran terlintas
Seorang teman, sebut saja namanya Q, mahasiswa angkatan 2002 yang sudah lulus, katanya mulai bekerja di sebuah kantor pengacara di Jakarta. Mungkin ada yang tahu, namanya Nindyo Utomo and Partners. Memang itu kantor pengacara milik seorang dosen Fakultas Hukum UGM juga.
Teman saya yang lain mengantar kepergian teman yang satu itu di stasiun Tugu, Jogja. Kemudian dia bercerita kalo si Q ini gaji awalnya aja udah 3,8jt sebulan. Kecil, katanya, untuk ukuran Jakarta.
Ada seorang teman lain, sebut saja A, yang juga pernah magang di kantor itu. Katanya gaji sebagai para-legal di sana mencapai 2,5 juta sebulan.
Terus terang, mendengar cerita-cerita itu saya menjadi sedikit iri. Iri karena mereka sudah cukup mapan menentukan pilihan kariernya, sudah bisa menghasilkan uang sendiri (dalam jumlah yang tidak kecil, tentunya). Namun kemudian, rasa iri itu berkurang dan berganti menjadi pemakluman. Maklum karena memang mereka sebagai mahasiswa dapat dikatakan mahasiswa yang di atas rata-rata. Pendek kata, they deserve it!!!
Saya, yang merasa sebagai mahasiswa yang biasa-biasa saja—jika tidak mau dibilang bodoh mengingat sampai saat ini IPK saya belum juga menembus limit 3.00, tentu saja cuma bisa membayangkan diri saya yang berada di posisi si Q.
Di sinilah saya kemudian merasa gamang dengan pilihan karier saya, juga masa depan saya secara keseluruhan. Sampai saat ini, ketika saya hampir 3 tahun kuliah (4 tahun jika dihitung dengan yang tidak selesai), saya belum juga mantap akan sebuah pilihan. Kemudian saya teringat kata-kata sohib saya Ipung. "Kepalamu dipenuhi ide-ide, ide besar, bahkan. Tapi saya nggak yakin kamu bisa mewujudkan kesemuanya". Mungkin Ipung benar. Karena terlalu banyak ide, saya justru malah tidak bisa memilih dan menetapkan hati. Apa yang sebenarnya saya cari? Mau jadi apa saya? Dalam 10 tahun ke depan, siapa saya?
Yang jelas, satu pilihan sudah saya coret dari pemikiran. Jadi PNS. Maaf, dengan segala hormat kepada teman-teman atau siapa saja yang sudah atau mau jadi PNS. Ayah saya jadi PNS hampir 20 tahun dan kemudian memilih pensiun dini pada usia 45 tahun. Ayah saya bilang, jadi PNS artinya kamu bersiap membentuk mentalmu menjadi mental pesuruh. (Sekali lagi maaf, saya siap dihujat karena ini). I think he had a point. Dia meneruskan, jangan cuma mencari kerja, tetapi ciptakanlah lapangan kerja. Negara kita butuh orang seperti itu. Dan lagi, jangan mau cuma jadi buntut macan, bapakmu cukup bahagia meski cuma jadi kepala kucing. Ya kepala kucing. Hanya mengeong, kalau menggigit pun pasti tidak akan sakit. Tapi kita kan menggigit. Tidak cuman dikibas-kibaskan tanpa upaya.
Hmmmmmmm…
Dalam banyak sisi, memang pemikiran ayah saya menempel kuat di kepala saya.
(Tapi sebenarnya ada pengecualian: jadi dosen. Itu salah satu idealisme saya. Saya ingin menjadi pendidik.)
Namun kegamangan ini cukup terobati oleh kata-kata seorang kawan, Rahmat. Dia bilang, tidak usah merasa iri dengan teman-teman. Rencanakan sendiri masa depanmu. Lantas saya jadi ingat buku Paulo Coelho yang judulnya Sang Alkemis (The Alchemist. Sekedar OOT, saya pikir Dan Brown dalam menulis buku Da Vinci Code sangat terinspirasi buku ini. Coba anda baca kedua buku itu dan bandingkan). Inti cerita itu ialah tentang menemukan "legenda pribadi" kita sendiri. Sebuah legenda pribadi, sebuah jalan hidup kita sendiri. Dan itulah yang mesti saya temukan. Soon or later.
Namun, jujur, hingga saat ini, kegamangan saya masih belum reda.