Archive for May, 2006

Malam Mencekam di Bantul

Wednesday, May 31st, 2006

malam ini saya akhirnya meluncur ke Bantul. Daerah yang selalu disebut sebagai "worst-hit district". Saya ke sana mau mensurvei salah satu keluarga besar Fakultas Hukum yang meskipun tidak jadi korban, tetapi rumahnya remuk dan mesti tinggal di pengungsian.

saya membonceng teman mulai mendekati "ground zero" melalui jalan imogiri. dari arah selatan iring-iringan kendaraan merayap karena jalanan cukup sempit. di kanan kiri banyak terlihat reruntuhan bangunan yang…luar biasa…baru pernah saya menyaksikan kerusakan separah ini dengan mata kepala sendiri. (mengingat sebelumnya saya selalu melihat sebuah bencana dari titik yang jauh sehingga tidak bisa melihat setiap sudut daerah musibah) tenda-tenda sederhana berdiri dari terpal. tanpa dinding. lantai tanah hanya berlapiskan tikar tipis. tidak ada listrik. hanya ada penerangan teplok.

makin ke selatan, kondisi makin parah. suasana malam sungguh mencekam karena banyak pula orang-orang jahat yang memanfaatkan kesempatan untuk berbuat kriminal. dan masyarakat yang sedang dalam kondisi lelah, frustasi, dan marah sangat gampang meluapkan emosi mereka kepada orang-orang yang dituduh maling. konon semalam saja ada mungkin 2 maling yang dibakar hidup-hidup di bantul.

namun ternyata kegelapan itu pun tidak selamanya. ada beberapa tenda pengungsian yang sudah cukup terang dengan listrik yang bersumber dari genset. tenda mereka pun cukup besar dengan dinding yang lumayan membuat pengungsi terlindung dari angin malam yang kejam.

terus terang saya nelangsa melihat begitu banyak penderitaan yang mesti dialami manusia. cuman karena saya laki-laki, saya berusaha tidak terlihat cengeng. (padahal apa salahnya ya, cowok nangis?). saya nelangsa membayangkan kalau itu terjadi pada keluarga saya. saya ingat, dulu ketika masih kecil, rumah saya terbuat dari kayu dan gedek. hampir pasti, kalau saja diguncang gempa seperti di jogja, maka akan hancur berkeping-keping tiada bersisa.

saya sadar, bantuan yang saya berikan tidaklah mampu membuat perubahan besar. tetapi saya yakin, jika niatan berbuat baik itu dimiliki setiap orang, orang-orang yang sengsara di sana akan segera tertolong. untuk kemudian bangkit. kata orang bijak, di dalam bencana, akan terlihat watak asli sebuah bangsa. selain kasus maling tadi–yang sedikit banyak menunjukkan bangsa kita kadang bermental kriminal, saya justru melihat inilah bentuk persaudaraan yang paling nyata yang pernah saya alami. bukan persaudaraan dan kesetiakawanan yang selama ini mungkin dipahami melalui "butir-butir mutiara" maupun berjam-jam penataran P4 yang membosankan. Untung sekarang sudah tidak ada.

Gempa di Jogja

Saturday, May 27th, 2006

sudah 3 hari terakhir ini saya nginep di kampus karena sedang nggarap penerbitan buletin. biasanya jam 5-6 saya pulang ke kos. biasanya lagi sih saya ngelanjutin ngorok.

nah…pagi hari tanggal 27 mei 2006.pagi jam 5.45wib saya pulang ke kos dengan mata agak berat. segera setelah sampai kos, cuci kaki, saya masuk kamar untuk membaringkan badan. baru saja saya menggrendel (meng-catenaccio)pintu kamar tiba2 ada bunyi sangat keras dari atap kamar yang cor2an beton ini. sempat saya pikir itu suara pesawat terbang yang terbang sangat rendah. tapi sejurus kemudian, dengan kaki yang tidak bisa menjejak teguh ke lantai, bahwa ini sebuah gempa bumi yang dahsyat. saya tidak berpikir apa2 lagi selain keselamatan dan segera berlari ke luar rumah.

di luar rumah ternyata banyak orang juga keluar karena ketakutan. banyak ibu2 dan anak2 yang menangis. perasaan saya campur aduk. dengan lutut yang gemetaran, hati berdebar-debar dan napas tersengal-sengal. kata teman yang tinggal di lantai 2 kos2an, dia seperti baru naik kapal laut. bumi bergoyang-goyang bagai ombak samudra. bahkan untuk memasukkan kunci saja susahnya ngalahin gaya jurus mabok. segera saya mengabari orang2 di purwokerto bahwa saya selamat dengan sisa pulsa tersisa (kira2 Rp. 1900an).

jam 8.00wib saya pergi ke kampus mencoba cari tahu kabar teman saya yang saya tinggal sendirian tadi pagi. ternyata ia pun sempat panik. meskipun dengan gampang ia menghambur ke pelataran, ternyata sebagian pelataran yang dekan dengan
gedung kuliah berlantai 3 pun “diserbu” genteng2 yang berjatuhan dari langit. ternyata kawan saya tidak apa2. dan saya kemudian mengajak dia melihat2 keadaan karena konon banyak bangunan rusak.

saya dkk melihat saphir square, sebuah mall baru–berarsitektur cantik dengan kanopi di depannya, ternyata juga porak-poranda. kanopi raksasa itu runtuh ke tanah. demikian juga sebagian bongkahan tembok menimpa tanah di bawahnya.
terlihat dua mobil menjadi korban. remuk. saya tidak tahu apa ada orang di dalamnya. (kalo dinget2, ngapain jam 6 ke mall ya? oya di situ kan ada supermarket diamond yang buka 24 jam).

bergerak ke timur. sekumpulan gedung baru yang belum selesai dibangun milik Univ Islam Negeri rusak berat di bagian atap. dan di kampung di bawah jembatan terlihat beberapa orang sedang menggotong tetangganya yang entah luka entah sudah
meninggal.

makin ke timur, makin banyak lautan manusia. ternyata satu lagi mall menjadi korban. ambarukmo plaza (amplas) bolong di sana-sini. terlihat runtuhan tembok berserakan di jalanan. di bagian depan, restoran KFC pecah berantakan kacanya.
temboknya pun remuk di sana sini. dan di lantai teratas pun terlihat bolongnya tembok di bagian “sang raksasa ritel”: carrefour. teman saya dengan bercanda bilang, inilah keruntuhan kapitalisme. hidup sosialisme. saya tersenyum kecut menyadari rencana nonton film da vinci code senen besok pasti batal.

ketika berada di depan amplas itulah muncul teriakan dari arah barat, “air naik, air naik”. gerombolan masa di situ segera saja kehilangan rasionalitasnya dan menjadi sekumpulan orang yang panik dan berebut melaju ke arah timur. saya sih ngikut saja,
walaupun kemudian saya mikir bahwa jogja berjarak minimal 30km dari pantai, jadi dibutuhkan gempa bumi yang 3 kali lebih kuat dari gempa di aceh untuk memicu tsunami yang menyerbu hingga 30km. saya pun rada tenang. di jalan beratus2 orang
panik bergerak ke utara, mencari tempat lebih tinggi. ibu2 yang menggendong bayinya, anak2 kecil yang terpaksa tidak sekolah dan menangis, beberapa perempuan muda yang baru bangun tidur cuman memakai pakaian tidur mereka—ada beberapa yang bercelana pendek :), sambil menggendong boneka berteriak “air, air”. saya pun beberapa kali mengatakan ke orang2 di pinggir jalan, terutama kepada orang2 tua dan ibu2, untuk tidak panik karena tidak mungkin tsunami menyerbu hingga ke situ.

ternyata ring road utara, tempat saya keluar dari jalan2 tikus penuh kepanikan, juga sudah dipadati orang dengan berbagai kendaraan. di perempatan condong catur, lampu lalu lintas mati, kemacetan parah tidak terhindarkan. polisi yang cuma
berjumlah 4 orang tidak cukup berdaya mengatur lalin.

saya menuju ke kos lama mencoba menanyakan kabar kawan2. ternyata mereka baik2 saja dan sedang mendengarkan radio karena listrik mati sehingga tidak dapat nonton tivi. dari radio dilaporkan bahwa di jalan parangtritis km 23, 3km dari pantai,
tidak ada gelombang air. semuanya hanya isu. dari radio pula saya tahu bahwa kerusakan terbesar dialami Bantul. beberapa kecamatan seperti piyungan, sanden, bambanglipuro, dll mengalami tragedi terbesar karena beberapa orang dikabarkan
kehilangan nyawanya.

setelah pulang sebentar ke rumah, saya kembali ke kampus menemui dua teman yang terpencar ketika “rush” dalam kepanikan. di sana, beberapa teman dari majestic55–PAnya hukum yang baru pulang dari Wonosari, Gn Kidul, bahwa daerah
Patuk pun rata dengan tanah. Parah, kata mereka.

Di kampus, memanfaatkan wifi kampus, dengan laptop teman, kami mencoba mencari kabar karena listrik di kampus mati. dari detik.com diperoleh banyak kabar. kebanyakan kabar buruk. (terakhhir, saya menulis surat ini, korban sudah mencapai
2.459 orang tewas dan ribuan terluka, sumber detik.com dari satkorlak bencana diy).

saya pulang dan mandi. mandi pun saya tidak berani terlalu lama, karenanya saya mencicil sikat gigi dan keramas sebelum gebyar-gebyur cuci badan. maksud saya, jika pas saya sikat gigi ada gempa susulan, saya tidak harus berlari keluar hanya
memakai handuk saja. brilian kan?

bersama seorang kawan, saya pergi ke bandara adi sutjipto yang katanya ditutup. ternyata terminal keberangkatan domestik bandara runtuh dan menelan 2 orang korban jiwa serta 9 luka-luka. kawan saya yang mencoba escape dari jogja harus
kecele karena semua penerbangan dialihkan melalui solo.malam ini mungkin saya mau ngungsi ke kos lama. di sana lebih gampang melarikan diri ke pelataran. sedangkan di kos sendiri haru lari kira2 10 meter sebelum bisa
menemui halaman.

saya bersyukur saya selamat. Allah mengingatkan saya buat bangun pagi hari ini. mungkin lain kali saya tidak akan seberuntung ini. saya juga merasakan bagaimana dulu (mungkin) rakyat aceh melihat bencana di depan mata mereka. panik, bingung, sedih, campur aduk, deh!

kepada para korban, atau yang keluarganya, temannya, relasinya, dsb turut menjadi korban, saya turut berduka cita sedalam2nya. semoga kita bisa melewati cobaan ini dengan tabah. kita ini hanyalah hamba-Nya. amien.

salam!
masih di jogja mengingat saya punya pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. senen saya harus masuk kerja.

Pram

Monday, May 1st, 2006

pramoedya ananta toer….
apa arti nama itu bagi anda?
seorang kawan dari timur mengirim pesan pendek yang mengabarkan
kematiannya.
saya sendiri sebenarnya sudah tahu dari tayangan tivi mengenai
mangkatnya sastrawan ini. tetapi tampaknya nama ini pun memiliki jejak sendiri
di benak maupun perasaan sang pengirim.

saya pertama dengar nama pram ketika masuk sma. yang saya tahu adalah
bahwa karya-karya sastrawan ini dilarang kejaksaan agung karena dianggap
menyebarkan ideologi komunisme, marxisme, dan leninisme.
kemudian, seorang guru bahasa indonesia di sma makin membuat saya
penasaran mengenai pram. guru itu menceritakan di depan kelas mengenai novel
pram. khususnya tetralogi buru. ia bercerita dengan semangat tentang
minke, tentang perjuangannya melawan feodalisme, tentang cinta dua anak
manusia yang berbeda bangsa dan strata.
hal ini menambah rasa penasaran saya akan pram. apalagi tersiar berita
bahwa karya pram dinominasikan sebagai calon penerima hadiah novel
kesusastraan.
namun, hingga dua tahun bersekolah di sma itu, karya-karya pram belum
pernah saya baca. (pada saat itu saya juga tengah mengidolai budiman
sudjatmiko, anak muda yang berani melawan tirani, dan konon pram adalah
mentor mas iko–begitu budiman dipanggil)

baru pada tahun ketiga saya bersekolah, saya memiliki kesempatan untuk
membaca salah satu dari 4 karya monumental pram. saya lupa apakah itu
rumah kaca atau anak semua bangsa atau jejak langkah. saya juga kurang
tahu urutan tetralogi pram. namun yang terpenting bagi saya, rasa
penasaran akan karya pram sedikit terobati.

memang, membaca pram itu mengasyikkan. kata demi kata. kalimat demi
kalimat saya lahap. seakan saya tidak mau berhenti. gaya berceritanya yang
mengalir membuat saya terhanyut. cara berkisahnya yang bagai sedang
bercerita mengenai sebuah sejarah membuat saya terlena. (ketika kemudian
saya kuliah di UGM, saya membaca goenawan mohammad. menurut saya yang
gaya bertuturnya sekelas pram hanyalah GM).

kemudian juga saya tahu sejarah panjang kiprah politik pram. tentang
lekra, tentang manifesto kebudayaan (manikebu) dan surat kepercayaan
gelanggang-nya. tentang seni yang tidak berhenti semata-mata sebagai seni.

kini pram telah tiada. dengan segala kiprahnya yang kontroversial, bagi
saya, pram adalah salah satu yang terbaik. dulu mungkin pram pernah
begitu disia-siakan, dibuang ke pulau buru sebagai tahanan politik. namun
di tengah keterbelengguan itulah, mahakaryanya hadir. pram telah
memperkaya batin saya dengan karya-karyanya.

selamat jalan, pramoedya ananta toer.