Gempa di Jogja
sudah 3 hari terakhir ini saya nginep di kampus karena sedang nggarap penerbitan buletin. biasanya jam 5-6 saya pulang ke kos. biasanya lagi sih saya ngelanjutin ngorok.
nah…pagi hari tanggal 27 mei 2006.pagi jam 5.45wib saya pulang ke kos dengan mata agak berat. segera setelah sampai kos, cuci kaki, saya masuk kamar untuk membaringkan badan. baru saja saya menggrendel (meng-catenaccio)pintu kamar tiba2 ada bunyi sangat keras dari atap kamar yang cor2an beton ini. sempat saya pikir itu suara pesawat terbang yang terbang sangat rendah. tapi sejurus kemudian, dengan kaki yang tidak bisa menjejak teguh ke lantai, bahwa ini sebuah gempa bumi yang dahsyat. saya tidak berpikir apa2 lagi selain keselamatan dan segera berlari ke luar rumah.
di luar rumah ternyata banyak orang juga keluar karena ketakutan. banyak ibu2 dan anak2 yang menangis. perasaan saya campur aduk. dengan lutut yang gemetaran, hati berdebar-debar dan napas tersengal-sengal. kata teman yang tinggal di lantai 2 kos2an, dia seperti baru naik kapal laut. bumi bergoyang-goyang bagai ombak samudra. bahkan untuk memasukkan kunci saja susahnya ngalahin gaya jurus mabok. segera saya mengabari orang2 di purwokerto bahwa saya selamat dengan sisa pulsa tersisa (kira2 Rp. 1900an).
jam 8.00wib saya pergi ke kampus mencoba cari tahu kabar teman saya yang saya tinggal sendirian tadi pagi. ternyata ia pun sempat panik. meskipun dengan gampang ia menghambur ke pelataran, ternyata sebagian pelataran yang dekan dengan
gedung kuliah berlantai 3 pun “diserbu” genteng2 yang berjatuhan dari langit. ternyata kawan saya tidak apa2. dan saya kemudian mengajak dia melihat2 keadaan karena konon banyak bangunan rusak.
saya dkk melihat saphir square, sebuah mall baru–berarsitektur cantik dengan kanopi di depannya, ternyata juga porak-poranda. kanopi raksasa itu runtuh ke tanah. demikian juga sebagian bongkahan tembok menimpa tanah di bawahnya.
terlihat dua mobil menjadi korban. remuk. saya tidak tahu apa ada orang di dalamnya. (kalo dinget2, ngapain jam 6 ke mall ya? oya di situ kan ada supermarket diamond yang buka 24 jam).
bergerak ke timur. sekumpulan gedung baru yang belum selesai dibangun milik Univ Islam Negeri rusak berat di bagian atap. dan di kampung di bawah jembatan terlihat beberapa orang sedang menggotong tetangganya yang entah luka entah sudah
meninggal.
makin ke timur, makin banyak lautan manusia. ternyata satu lagi mall menjadi korban. ambarukmo plaza (amplas) bolong di sana-sini. terlihat runtuhan tembok berserakan di jalanan. di bagian depan, restoran KFC pecah berantakan kacanya.
temboknya pun remuk di sana sini. dan di lantai teratas pun terlihat bolongnya tembok di bagian “sang raksasa ritel”: carrefour. teman saya dengan bercanda bilang, inilah keruntuhan kapitalisme. hidup sosialisme. saya tersenyum kecut menyadari rencana nonton film da vinci code senen besok pasti batal.
ketika berada di depan amplas itulah muncul teriakan dari arah barat, “air naik, air naik”. gerombolan masa di situ segera saja kehilangan rasionalitasnya dan menjadi sekumpulan orang yang panik dan berebut melaju ke arah timur. saya sih ngikut saja,
walaupun kemudian saya mikir bahwa jogja berjarak minimal 30km dari pantai, jadi dibutuhkan gempa bumi yang 3 kali lebih kuat dari gempa di aceh untuk memicu tsunami yang menyerbu hingga 30km. saya pun rada tenang. di jalan beratus2 orang
panik bergerak ke utara, mencari tempat lebih tinggi. ibu2 yang menggendong bayinya, anak2 kecil yang terpaksa tidak sekolah dan menangis, beberapa perempuan muda yang baru bangun tidur cuman memakai pakaian tidur mereka—ada beberapa yang bercelana pendek :), sambil menggendong boneka berteriak “air, air”. saya pun beberapa kali mengatakan ke orang2 di pinggir jalan, terutama kepada orang2 tua dan ibu2, untuk tidak panik karena tidak mungkin tsunami menyerbu hingga ke situ.
ternyata ring road utara, tempat saya keluar dari jalan2 tikus penuh kepanikan, juga sudah dipadati orang dengan berbagai kendaraan. di perempatan condong catur, lampu lalu lintas mati, kemacetan parah tidak terhindarkan. polisi yang cuma
berjumlah 4 orang tidak cukup berdaya mengatur lalin.
saya menuju ke kos lama mencoba menanyakan kabar kawan2. ternyata mereka baik2 saja dan sedang mendengarkan radio karena listrik mati sehingga tidak dapat nonton tivi. dari radio dilaporkan bahwa di jalan parangtritis km 23, 3km dari pantai,
tidak ada gelombang air. semuanya hanya isu. dari radio pula saya tahu bahwa kerusakan terbesar dialami Bantul. beberapa kecamatan seperti piyungan, sanden, bambanglipuro, dll mengalami tragedi terbesar karena beberapa orang dikabarkan
kehilangan nyawanya.
setelah pulang sebentar ke rumah, saya kembali ke kampus menemui dua teman yang terpencar ketika “rush” dalam kepanikan. di sana, beberapa teman dari majestic55–PAnya hukum yang baru pulang dari Wonosari, Gn Kidul, bahwa daerah
Patuk pun rata dengan tanah. Parah, kata mereka.
Di kampus, memanfaatkan wifi kampus, dengan laptop teman, kami mencoba mencari kabar karena listrik di kampus mati. dari detik.com diperoleh banyak kabar. kebanyakan kabar buruk. (terakhhir, saya menulis surat ini, korban sudah mencapai
2.459 orang tewas dan ribuan terluka, sumber detik.com dari satkorlak bencana diy).
saya pulang dan mandi. mandi pun saya tidak berani terlalu lama, karenanya saya mencicil sikat gigi dan keramas sebelum gebyar-gebyur cuci badan. maksud saya, jika pas saya sikat gigi ada gempa susulan, saya tidak harus berlari keluar hanya
memakai handuk saja. brilian kan?
bersama seorang kawan, saya pergi ke bandara adi sutjipto yang katanya ditutup. ternyata terminal keberangkatan domestik bandara runtuh dan menelan 2 orang korban jiwa serta 9 luka-luka. kawan saya yang mencoba escape dari jogja harus
kecele karena semua penerbangan dialihkan melalui solo.malam ini mungkin saya mau ngungsi ke kos lama. di sana lebih gampang melarikan diri ke pelataran. sedangkan di kos sendiri haru lari kira2 10 meter sebelum bisa
menemui halaman.
saya bersyukur saya selamat. Allah mengingatkan saya buat bangun pagi hari ini. mungkin lain kali saya tidak akan seberuntung ini. saya juga merasakan bagaimana dulu (mungkin) rakyat aceh melihat bencana di depan mata mereka. panik, bingung, sedih, campur aduk, deh!
kepada para korban, atau yang keluarganya, temannya, relasinya, dsb turut menjadi korban, saya turut berduka cita sedalam2nya. semoga kita bisa melewati cobaan ini dengan tabah. kita ini hanyalah hamba-Nya. amien.
salam!
masih di jogja mengingat saya punya pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. senen saya harus masuk kerja.