Malam Mencekam di Bantul

malam ini saya akhirnya meluncur ke Bantul. Daerah yang selalu disebut sebagai "worst-hit district". Saya ke sana mau mensurvei salah satu keluarga besar Fakultas Hukum yang meskipun tidak jadi korban, tetapi rumahnya remuk dan mesti tinggal di pengungsian.

saya membonceng teman mulai mendekati "ground zero" melalui jalan imogiri. dari arah selatan iring-iringan kendaraan merayap karena jalanan cukup sempit. di kanan kiri banyak terlihat reruntuhan bangunan yang…luar biasa…baru pernah saya menyaksikan kerusakan separah ini dengan mata kepala sendiri. (mengingat sebelumnya saya selalu melihat sebuah bencana dari titik yang jauh sehingga tidak bisa melihat setiap sudut daerah musibah) tenda-tenda sederhana berdiri dari terpal. tanpa dinding. lantai tanah hanya berlapiskan tikar tipis. tidak ada listrik. hanya ada penerangan teplok.

makin ke selatan, kondisi makin parah. suasana malam sungguh mencekam karena banyak pula orang-orang jahat yang memanfaatkan kesempatan untuk berbuat kriminal. dan masyarakat yang sedang dalam kondisi lelah, frustasi, dan marah sangat gampang meluapkan emosi mereka kepada orang-orang yang dituduh maling. konon semalam saja ada mungkin 2 maling yang dibakar hidup-hidup di bantul.

namun ternyata kegelapan itu pun tidak selamanya. ada beberapa tenda pengungsian yang sudah cukup terang dengan listrik yang bersumber dari genset. tenda mereka pun cukup besar dengan dinding yang lumayan membuat pengungsi terlindung dari angin malam yang kejam.

terus terang saya nelangsa melihat begitu banyak penderitaan yang mesti dialami manusia. cuman karena saya laki-laki, saya berusaha tidak terlihat cengeng. (padahal apa salahnya ya, cowok nangis?). saya nelangsa membayangkan kalau itu terjadi pada keluarga saya. saya ingat, dulu ketika masih kecil, rumah saya terbuat dari kayu dan gedek. hampir pasti, kalau saja diguncang gempa seperti di jogja, maka akan hancur berkeping-keping tiada bersisa.

saya sadar, bantuan yang saya berikan tidaklah mampu membuat perubahan besar. tetapi saya yakin, jika niatan berbuat baik itu dimiliki setiap orang, orang-orang yang sengsara di sana akan segera tertolong. untuk kemudian bangkit. kata orang bijak, di dalam bencana, akan terlihat watak asli sebuah bangsa. selain kasus maling tadi–yang sedikit banyak menunjukkan bangsa kita kadang bermental kriminal, saya justru melihat inilah bentuk persaudaraan yang paling nyata yang pernah saya alami. bukan persaudaraan dan kesetiakawanan yang selama ini mungkin dipahami melalui "butir-butir mutiara" maupun berjam-jam penataran P4 yang membosankan. Untung sekarang sudah tidak ada.

One Response to “Malam Mencekam di Bantul”

  1. Fitrie Says:

    Alhammdulillah
    setidaknya dirimu masih mempunyai rasa Empati….. walau sesaat

Leave a Reply