Pram

pramoedya ananta toer….
apa arti nama itu bagi anda?
seorang kawan dari timur mengirim pesan pendek yang mengabarkan
kematiannya.
saya sendiri sebenarnya sudah tahu dari tayangan tivi mengenai
mangkatnya sastrawan ini. tetapi tampaknya nama ini pun memiliki jejak sendiri
di benak maupun perasaan sang pengirim.

saya pertama dengar nama pram ketika masuk sma. yang saya tahu adalah
bahwa karya-karya sastrawan ini dilarang kejaksaan agung karena dianggap
menyebarkan ideologi komunisme, marxisme, dan leninisme.
kemudian, seorang guru bahasa indonesia di sma makin membuat saya
penasaran mengenai pram. guru itu menceritakan di depan kelas mengenai novel
pram. khususnya tetralogi buru. ia bercerita dengan semangat tentang
minke, tentang perjuangannya melawan feodalisme, tentang cinta dua anak
manusia yang berbeda bangsa dan strata.
hal ini menambah rasa penasaran saya akan pram. apalagi tersiar berita
bahwa karya pram dinominasikan sebagai calon penerima hadiah novel
kesusastraan.
namun, hingga dua tahun bersekolah di sma itu, karya-karya pram belum
pernah saya baca. (pada saat itu saya juga tengah mengidolai budiman
sudjatmiko, anak muda yang berani melawan tirani, dan konon pram adalah
mentor mas iko–begitu budiman dipanggil)

baru pada tahun ketiga saya bersekolah, saya memiliki kesempatan untuk
membaca salah satu dari 4 karya monumental pram. saya lupa apakah itu
rumah kaca atau anak semua bangsa atau jejak langkah. saya juga kurang
tahu urutan tetralogi pram. namun yang terpenting bagi saya, rasa
penasaran akan karya pram sedikit terobati.

memang, membaca pram itu mengasyikkan. kata demi kata. kalimat demi
kalimat saya lahap. seakan saya tidak mau berhenti. gaya berceritanya yang
mengalir membuat saya terhanyut. cara berkisahnya yang bagai sedang
bercerita mengenai sebuah sejarah membuat saya terlena. (ketika kemudian
saya kuliah di UGM, saya membaca goenawan mohammad. menurut saya yang
gaya bertuturnya sekelas pram hanyalah GM).

kemudian juga saya tahu sejarah panjang kiprah politik pram. tentang
lekra, tentang manifesto kebudayaan (manikebu) dan surat kepercayaan
gelanggang-nya. tentang seni yang tidak berhenti semata-mata sebagai seni.

kini pram telah tiada. dengan segala kiprahnya yang kontroversial, bagi
saya, pram adalah salah satu yang terbaik. dulu mungkin pram pernah
begitu disia-siakan, dibuang ke pulau buru sebagai tahanan politik. namun
di tengah keterbelengguan itulah, mahakaryanya hadir. pram telah
memperkaya batin saya dengan karya-karyanya.

selamat jalan, pramoedya ananta toer.

Leave a Reply