Ketatnya Pertahanan dan Drama Yang Tidak Mendapat Panggung di Jerman

Kehl
Kemarin, legenda sepakbola Jerman yang dikenal dengan julukan Der Kanzler alias Sang Kaisar, Franz Beckenbauer
membuat pernyataan menarik. Ia mengecam tim-tim peserta Piala Dunia yang cenderung tampil defensif. Hal ini dibuktikan dengan rata-rata gol yang hanya mencapai 2,27 gol per pertandingan (hingga semifinal). Rataan ini hanya sedikit lebih baik dari Piala Dunia 1990 Italia yang rata-rata gol di sana hanya berkisar pada 2,21 gol per pertandingan (tahun sekaratnya filosofi menyerang dalam sepakbola, sekaligus tahun di mana Beckenbauer ditahbiskan menjadi orang Jerman pertama yang memenangi PD sebagai pemain sekaligus sebagai pelatih). Ia menyerang pelatih-pelatih yang hanya memakai 1 penyerang serta lebih berkonsentrasi bertahan dan membangun serangan balik. Ia sebut mereka sebagai penakut.

Beberapa hari silam saya ingat juga ada kecaman dari Presiden FIFA Sepp Blater kepada Sven-Goran Eriksson sang pelatih Inggris yang hanya menggunakan 1 orang penyerang. Menurutnya, Inggris pantas bermain lebih baik dari penampilan yang mereka peragakan di babak penyisihan grup. Hal ini senada dengan kecaman pemain Inggris
sendiri, Michael Owen–yang terpaksa pulang lebih awal karena cedera dan menyisakan Eriksson pilihan yang sulit, yakni 1 orang striker yang baru sembuh dari cedera namun menanggung beban super berat di pundaknya, pemuda canggung yang tingginya hampir 2 meter dan seorang lagi remaja ingusan yang bahkan belum pernah merasakan sengatan tekel bek-bek tangguh di kancah Premiership. Owen mengecam taktik si Swedish Eriksson dengan hanya menempatkan Wayne Rooney sendirian di lini penggempur. Kartu merah Roo ketika melawan Portugal, sebut Owen, adalah akibat dari rasa frustasi Rooney the Wonderboy karena ia tidak punya partner seimbang di lini depan Inggris.

Buat saya, PD kali ini memang cukup wagu. Kenapa wagu? Ya karena apa yang diucapin sang ketua panitia yang sukses besar, Beckenbauer (dan kemudian saya juga ingat ucapan mantan top-skorer PD 1990 dari Inggris Gary Lineker yang menyebut bintang PD kali ini adalah para bek dan kiper), saya pikir banyak benarnya. Bayangkan, dari 4
semifinalis, 3 tim (Prancis, Portugal, dan Italia) memakai taktik 1 striker dan menumpuk 5 orang gelandang di tengah. Cuma Jerman yang secara berani dan revolusioner (kredit untuk sang pelatih Jurgen Klinsmann yang memang mantan penyerang andal) memasang duet kelahiran Polandia Lukas Podolski dan Miroslav Klose sebagai tumpuan harapan penggempur Jerman.

Untuk saya, tidak ada pemain yang benar-benar penampilannya menonjol di turnamen kali ini. Miro Klose, seorang striker yang sangat konsisten, walaupun bermain cukup baik, koleksi golnya berhenti di angka 5 karena terakhir mencetak gol melawan Argentina di perempat final. Ketatnya pertahanan tim-tim peserta ketika turnamen memasuki babak knock-out membuat para arsitek strategi masing-masing tim makin defensif dan berusaha tidak membuat kesalahan. Dari yang sedikit menonjol itu, saya lagi-lagi sepakat dengan Lineker, bahwa yang menonjol justru Buffon,
Cannavaro, Thuram, dan Makelele. Jangan lupakan juga Pascal Zuberbuehler (Swiss), yang tidak pernah kebobolan kecuali dalam adu penalti melawan kuda hitam dari Timur, Ukraina, dan Ricardo (Portugal), satu-satunya orang yang pantas menyaingi Buffon dalam perebutan gelar kiper terbaik.

Piala Dunia kali ini juga minim drama. Tidak ada pertandingan yang “breath-taking” hingga akhir pertandingan (pengecualian untuk partai semifinal Jerman vs Italia). Tidak ada pemain yang bisa cetak hattrick. Tidak ada kesebelasan yang mampu mengejar, atau bahkan menang setelah ketinggalan 2-0, misalnya. Atau setelah bermain hanya dengan 10 pemain. Minimnya kejutan dari negara-negara ketiga dalam sepakbola (dari Asia dan Afrika) makin mengurangi greget drama kali ini.

Saya khawatir, Final nanti malam bagaikan pertarungan final Liga Champion Eropa 2003 antara AC Milan v Juventus yang sama-sama takut menyerang dan lebih banyak memperkuat lini belakang. Kkalau itu yang terjadi, saya jamin
kita penonton bakal cepet jenuh dan akhirnya: NGANTUK!!! Jika itu yang terjadi, mungkin ini saatnya pencinta sepakbola menyerang mengumandangkan terompet sangkakala untuk filosofi sepakbola menyerang.

Dan kemudian…tunggu saja saat sepakbola menjadi sekarat kembali.

One Response to “Ketatnya Pertahanan dan Drama Yang Tidak Mendapat Panggung di Jerman”

  1. Ipung Says:

    weit….kesuh-sih kesuh mas tapi jangan bawa-bawa milan dong….
    btw…sepakat, evaluasi buat piala dunia tahun depan….gawang diperlebar, kiper dihilangkan, buang aturan offside….rame tenan….

Leave a Reply