Makan terigu, menyejahterakan orang asing?

Saya dari dulu sangat, sangat senang sama makanan yg satu ini. makanan yg empuk…manis, juga kadang asin. gampang ditelan dan nggak anti ditemani sama kopi atau teh.

namanya roti. apakah ada diantara anda yang nggak tahu apa itu roti? roti, meskipun bukan makanan asli indonesia, saya pikir dikenal oleh hampir setiap kalangan masyarakat di seluruh kolong langit ini.

roti, gampangnya, dibuat dari bahan baku utama bernama tepung terigu. di pasaran, ada tepung terigu curah, ada pula yg bermerek. ada yang segitiga biru, ada cakra kembar, ada gunung bromo, dan lain-lainnya. apa sih bahan pembuat tepung terigu?

anda benar! bahan pembuatan tepung terigu adalah gandum. dan tahukah anda bahwa tidak ada segelintir pun gandum yg ditanam di bumi indonesia? tahukah anda bahwa seluruh gandum yang akan dibuat menjadi tepung terigu sepenuhnya impor? impornya, bisa dari australia, dan bisa pula dari negara eropa atau amerika.

jadi, saya terkadang berpikir jika tengah makan roti (bukan sebuah dosa lho makan sambil mikir. tp kalo makan sambil ngomong itu nggak sopan :D). saya banyak makan roti, maka saya banyak mengkonsumsi terigu. maka saya banyak mengimpor gandum. maka saya ikut menyejahterakan para petani gandum di negeri seberang sana (meskipun nggak bohong kalo makan roti itu ikut menyejahterakan ibu-ibu yg membuat roti di dapur rumahnya sendiri).

apa sebenarnya yang ingin saya sampaikan? saya tidak sedang mengajak anda berhenti makan roti. saya juga tidak mengajak anda memboikot pabrik roti. yang ingin saya tawarkan adalah kesediaan anda untuk melihat sebuah fenomena dengan berbagai macam perspektif. silahkan anda makan roti, tapi tolong juga perhatikan nasib petani-petani kita yang teriak-teriak kesulitan bagaikan tikus mati di lumbung padi. perhatikan bahwa nasib mereka makin tergerus oleh kebijakan impor beras yang hanya memperkaya cukong-cukong dan petani-petani di luar negeri.

mampukah kita?

6 Responses to “Makan terigu, menyejahterakan orang asing?”

  1. FAME Says:

    jadi bsk kita minta mbak ega beli jadah alih alih roti besar yg enteng itu ya…

  2. arya Says:

    sekali-kali bolehlah :P

  3. Ipung Says:

    hemm..fakta yang ngga terlalu mengejutkan…
    hampir sama dengan fakta tentang kedelai….tempe anda..tempe saya..tempe istri anda…tempe istri saya, tempe kita semua…kedelainya berasal dari amerika lho…dan gosipnya (tapi saya percaya ini bukan gosip) adalah hasil transgenik, yang bahkan orang amerika pun enggan memakannya…jadi..tempe dan mendoan kita gimana ?
    nasib…nasib…jreeng

  4. Rintar Says:

    eh nyambung lagi … ngomentari komentarnya ipung.

    apakah tempe yang dijajakan di sarkem produk transgenik?
    kalau ternyata bener bagaimana?

  5. Rintar Says:

    daripada beras, harga terigu cenderung lebih stabil. kalau sekarang (des 2006) harga beras sedang naik luar biasa, menurut saya itu aneh, karena stok beras di Indonesia sedang tinggi-tingginya (baik produksi dalam negeri maupun impor), eh kok ya tega-teganya pemerintah mau impor beras lagi. Kalau ga salah (semoga bener), saudara-saudara/famili Jusuf Kalla adalah saudagar beras. Jadi kalau harga beras tinggi di saat stok beras tinggi, jangan-jangan ada kepentingan keluarga siapa yang bermain? tapi apa iya petani di luar negeri(terutama petani beras) juga dapet untung dari kebijakan impor beras. setahu saya, petani beras, di mana-mana di dunia ini, selalu saja jadi korban politisasi kepentingan ini itu.
    tapi yang kedua, roti itu juga tidak melulu berbahan dasar tepung gandum lho, ada juga tepung beras, tapi berasnya beras impor, jadi sama saja. ha…ha…ha.

  6. arya Says:

    mari kita kembali ke tiwul saja…hehehehe (eh eniwei, kenapa sih pemerintah kita maksa supaya seluruh rakyat indonesia makan beras? kalo buat orang jawa, makan beras emang dari dulu, tapi buat orang papua misalnya, bukannya mereka lebih seneng makan sagu/kentang?) hayo, tanya kenapa?

Leave a Reply