Jurnalisme Kepanikan: Heboh kecelakaan AdamAir di saat saya harus menghadapi ujian
Wednesday, January 10th, 2007Saat waktu baru beringsut sekitar 18 atau 19 jam saja dari momen pergantian tahun yang (menurut saya) biasa saja (tapi tidak menurut ribuan warga Jogja), sebuah berita mengejutkan tampil di televisi.
Sebuah stasiun televisi, dengan pembawa acara yang simpatik namun tajam, mengumumkan, sebuah pesawat Boeing 737-400 milik AdamAir hilang. Pesawat bernomor KI 574 (ada juga yang menyebut DHI 574) tersebut sedang menerbangi rute Surabaya ke Manado. Jumlah penumpang dan kru yang berada di atas pesawat berjumlah 102 orang, demikian lanjut mas Bayu yang bermuka ramah itu. Kesimpulan sementara saat itu, pesawat yang belakangan diketahui sudah pernah dipakai 8 maskapai sebelum AdamAir itu, mengalami kecelakaan karena cuaca buruk.
Tapi, malam itu, waktu berjalan terus untuk saya. Malam itu, saya memikirkan 2 ujian yang akan saya hadapi besok. Ujian hukum dagang, yang saya belum punya fotokopiannya (maklum, julukan mahasiswa fotokopian secara sepihak sudah saya klaim sejak awal masuk kuliah di UGM). Satu lagi, ujian hukum pidana militer, sudah punya kopiannya, tapi saya belum dapat tandatangan dosennya. Argh, pusing! Apalagi, besok saya masih harus kerja. Bener-bener mumet! Dan setelah membaca beberapa lembar, dengan sukses saya jatuh tertidur, melupakan hukum dagang dan pidana militer, apalagi AdamAir.
Pagi-pagi, saya bergegas ke kos Anwar, temen saya di kuliah dan juga temen kerja, yg lokasinya di bilangan Baciro, dekat kantor (meniru frasa Tio). Saya berharap dapet selembar-dua lembar materi ujian, tapi saya lupa kalau mas Anwar yang ganteng itu ber-NIM ganjil, yang berarti kelasnya beda, materinya juga beda. Mampus aku! Belum lagi, saya juga sudah harus nyetok berita biar temen-temen yang saya tinggal nggak terlalu kelimpungan.
Saat sudah nyetok berita, saat saya sudah memakai kaos kaki (ini jarang sekali buat saya, pake kaos kaki dan sepatu adalah hanya pada saat ujian), muncul berita di televisi: AdamAir ditemukan di Kabupaten Polewali Mandar (Polman) di Sulawesi Barat. Datanya gamblang dan terang, dari 102 orang di badan pesawat malang itu, 90 dinyatakan tewas, yang selamat 12 sisanya.
Sepulang ujian, media sudah ramai memberitakan penemuan pesawat naas itu. Media dotcom di mana saya bekerja juga menerjunkan belasan berita secara berturut-turut (tidak memberi ruang sedikitpun untuk porsi berita dari daerah lain). Ada bermacam-macam berita, dari keterangan Danlanud Makassar (wah saya jadi teringat betapa hebatnya militer kita menciptakan akronim), Bupati Polman, Gubernur Sulbar, hingga Menhub Pak Rambut Putih, Men Seskab, dan Wapres Kelik. Semua ribut, semua berebut corong minta waktu bicara. Ringkasnya, dengan derasnya pernyataan dan pengumuman dari para pejabat yang cukup kompeten, hingga hampir ujung hari Selasa itu, kami percaya bahwa pesawat itu memang benar jatuh.
Hingga, selepas Maghrib, saat saya masih tinggal di kantor, ada berita tak kalah mengejutkan muncul di televisi: seorang pejabat militer di Makassar membantah bahwa pesawat AdamAir sudah ditemukan!!! Tak percaya dan terkejut. Dengan tidak kalah meyakinkan, bapak Mayjen itu menegaskan, tidak ada satu pun pesawat yang sudah ditemukan. Tak ada raksasa Boeing, tak ada capung, dan tak ada pula jangkrik.
Lalu, apa artinya ini? Ngapain aja media-media kita seharian? Berita apa yang mereka turunkan untuk dikunyah publik selama 9-10 jam terakhir? Berita yang sempat membuat keluarga para penumpang sangat sedih, tapi juga memberi harapan adanya korban selamat. Berita yang sempat menggerakkan ratusan anggota tim SAR ke Polman, sekaligus membuat seluruh mata di segenap penjuru negeri menyorot ke daratan Sulawesi. Otak saya coba mencerna dan merunut seluruh kejadian hari itu. Ah, akhirnya kesimpulan yang (terlampau) sederhana saya peroleh: media massa kita, terjebak dalam sebuah komunikasi/jurnalisme kepanikan (entah darimana saya mendapat istilah ini). Ketika satu media menurunkan berita tersebut, semua turut memberitakan (mungkin karena takut disemprot Pimrednya di Jakarta sana) tanpa ada proses cek dan ricek serta verifikasi mendalam atas nilai kebenaran sebuah berita. Parahnya, komunikasi/jurnalisme kepanikan menyebar lebih cepat dari wabah flu burung. Akhirnya, kesalahkaprahan yang menular ini tercatat dalam sejarah kita. Bahwa kita pernah suatu hari, pernah merasa menjadi orang(bangsa) terbodoh di dunia yang sangat percaya kepada media.
Untuk saya pribadi, payahnya, saya masih harus mikirin ujian besok. Ahhhhhh!