Entah mengapa saya ingin menulis

February 8th, 2006 by arjazz

117065b
Rabu, 8 Februari 2006
Menjelang tengah malam

Entah mengapa saya ingin menulis malam ini.
Sejujurnya saya tengah bosan. Ada fasilitas akses internet high speed yang terbuka 24 jam di kampus. Saya sendirian saja malam ini. Dua teman sedang dalam perjalanan ke Jakarta. Pekerjaan penulisan buku sejarah 60 tahun berdirinya Fakultas Hukum UGM sudah lama selesai. Tapi wi-fi adapter yang dipinjamkan dari fakultas belum diambil juga. Awalnya cukup menyenangkan, lama kelamaan bosan juga. Tadi siang masih mending masih ada manusia yang online di YM dua biji.
Mungkin saya tergerak menulis setelah membaca beberapa blog milik teman-teman. Semacam blog milik Ipung. Juga  ketika saya melihat  sebuah buku berjudul Kata-Waktu di depan saya.
Saya sudah download (atau dunlut, kata Bungky) ini itu melalui mesin bernama Kazaa. Mulai dari lagu-lagi baru sampai yang enggak-enggak. Ah…masih bosan juga!!!!
Tadi saya hubungi teman di kos lama saya ajak ke sini dengan iming-iming internet gratis ini. Tapi ternyata dia sibuk dengan tugas kuliahnya. Trus saya hubungi manusia ajaib bernama Rienthar. Saya ajakin keluar malem ini (meskipun saya nggak tahu kosnya dan kemana mesti bertemu). Eh ternyata beliaunya lagi sibuk nyambut gawe, katanya.
Ya sudah…saya terpuruk saja di sini.

Terkadang, ketika mengingat perjalanan saya ke Kuala Kapuas melepas kepergian Pakde saya, saya jadi memikirkan istri saya. Entah mengapa saat itu saya ingin sekali memeluknya. Saya ingin kelak ketika saya mati, istri dan anak(anak) saya ada di sana. Melepas saya dengan ikhlas. Menyaksikan saya turun ke dalam tanah "menuju" tempat hakiki seorang manusia.
Saya ingin dikenang oleh istri dan anak(anak) saya kelak sebagai seorang suami, seorang ayah yang bertanggung jawab. Tidak lebih. Itu saja. Saya ingin membuat mereka bangga memiliki suami dan ayah seperti saya. Bangga atas apa keseluruhan saya. Atas keberhasilan dan kegagalan. Atas perbuatan yang benar dan keliru. Atas apa yang saya berikan maupun yang saya terima.
Hmmmmmmm

Sekarang sudah tengah malam.
Saya buka Kata-Waktu. Saya mencoba mencari tulisan Mas Goenawan di sekitar tanggal ulang tahun saya. Ternyata yang terdekat ada sebuah tulisan pada tanggal 26 Februari 1983. Judulnya: Sang Buddha.
Siddharta, seorang pangeran muda berusia 29 tahun, meninggalkan istananya–dan yang mungkin lebih penting dua mutiara hidupnya: istri dan seorang anaknya. Ia tahu ia tak akan kembali ke kemegahan dan kehidupan duniawinya. Hidup, sebagaimana ia saksikan, adalah sebuah kesementaraan, melalui rasa sakit, usia tua, dan akhirnya mati. Ini saya kutip lengkap dari tulisan GM 23 tahun yang lalu.

Kemudian saya teringat pada blog sobat saya, Ipung. Ipung banyak menulis soal hidup. Soal makna hidup. Apa arti hidup kita? Apa makna eksistensi kita? Apa peran kita dalam jejaring kehidupan? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu pun sudah seringkali berkelebat dalam otak saya yang agak kacau ini.
Banyak teman berkata, bahwa hidup itu pilihan. Secara relatif saya sepakat terhadap pemikiran ini. Hidup, adalah sebuah pilihan. Adalah pilihan hidup ketika kemudian Siddharta memutuskan melepas semua baju keduniawiannya dan memilih menjaga jarak dari buana kehidupan.

Tetapi kemudian perlu pula kita renungkan apa arti pilihan itu sendiri? Benarkah kita memiliki kebebasan untuk memilih? Apakah kemudian justru ke"manusia"an kita malah telah mengebiri kebebasan itu tadi? Bisakah kita memilih untuk jatuh ke atas ketika kita melompat dari lantai 30 sebuah gedung bertingkat? Saya pikir jawaban sementara telah saya dapatkan. Bahwa kita memang memiliki kebebasan. Memiliki opsi untuk menentukan jalan hidup kita sendiri. Namun kesemuanya harus tetap dalam kerangka ke"manusia"an tadi. Kita tetap harus patuh terhadap hukum yang sudah Tuhan ciptakan. Kadang terpikir, mengapa Tuhan tidak memberi saja kebebasan mutlak itu kepada kita manusia. Mungkin, Tuhan saking sayangnya sama makhluk termulia di alam semesta–manusia, maka Ia tidak mengijinkan adanya kebebasan mutlak itu. Yang ada hanyalah kebebasan nisbi. Yang relatif. Sedangkan yang mutlak hanyalah Ia sang Awal Mula segala sesuatu. Sang Causa Prima.

Catatan Perjalanan ke Bumi Borneo

February 6th, 2006 by arjazz

Bagian Kedua
Sebuah Pulau yang asing (meski tak cukup asing)

Jumat, 27 Januari 2006

21.00WIB
Suasana di Kapuas makin sepi. Hujan turun dengan deras. Tapi ternyata hanya sebentar.
Namun ternyata keramaian malam itu baru saja akan dimulai di rumah duka. Orang-orang yang ada di situ mulai menggelar permainan judi. Semuanya bermain judi kartu. Wah tentu saja saya kaget. Kalau di Jawa, orang main judi biasanya kalo ada hajatan. Lha ini main judi di tempat orang meninggal? Wah aneh benar rasanya, orang lelayu kayak orang mbarang gawe.
Saya hitung, ada sekitar 5 ajang permainan.
Mbak saya bilang, hal seperti ini memang biasa di sini. Adat di sini memang seperti itu. Katanya, sekarang ini sudah agak mendingan. Dulu, lanjutnya, ketika ada oran meninggal, satu jalan di depan rumahnya diisi oleh beragam permainan judi. Mulai dari judi kartu, dadu, sampai rolet aja tersedia, katanya. Bahkan yang ekstrem, biar jadi alasan buat menggelar judi, mereka memasang batang pisang (gedebog) yang diselimuti layaknya orang mati biar dikira sedang ada yang berduka!
Jangan dikira perputaran uang di ajang judi kampung itu kecil. Nilai perputaran uang semalam bisa mencapai jutaan rupiah!
22.00WIB
Saya masih saja ngobrol sama mas saya yang tinggal di Jakarta. Kami bercerita tentang dunia usaha. Dia bercerita mengenai keluh dan peluhnya bekerja di Jakarta. Kisah kehilangan HP pas dulu buka konter HP, cerita kehilangan motor yang baru berusia 1 bulan, hingga cerita soal showroom peralatan dapurnya yang sekarang cukup berkembang lengkap dengan karakter macam-macam konsumen yang cerewet-cerewet.
Saya juga bercerita bahwa saya berniat membangun sebuah usaha. Tepatnya membuka toko. (Toko apa? tunggu tanggal mainnya). Dia banyak membagi pengalamannya selama menggeluti dunia usaha dan memberi nasihat-nasihat yang menurut saya cukup penting sebagai bekal saya kelak mengarungi dunia usaha.
23.00WIB
Masih di tengah ajang judi, saya tertidur pulang di ruang tamu hanya beralaskan tikar. Untung masih ada bantal! Dan Pakde, masih "terbaring" nyenyak di ranjangnya. Bersemayam dalam damai.

Sabtu, 28 Januari 2006

07.00WIB
Saya terbangun. Ternyata para pelaku judi kampung itu sudah bubar semua. Saya kurang tahu apa mereka tidur semalam atau tidak. Segera saja saya menuju rumah mbak yang satu lagi untuk mandi karena baju-baju ganti saya tinggal di sana. Jaraknya hanya sekitar 300 meter.
08.30WIB
Selesai mandi dan sekedar berbasa-basi serta nonton tivi, saya pergi lagi ke rumah duka.
Kemudian saya diajak sarapan di luar oleh mas saya. Segera saja saya dan mas saya itu menuju daerah kota menggunakan sebuah skuter Vespa.
Pagi itu kota Kapuas terlihat ramai. Ada sepeda motor, mobil, dan –yang ajaib– becak! Ajaib? Iya ternyata tidak cuma Jawa yang memanfaatkan kendaraan bertenaga manusia itu sebagai sarana angkutan.
Kami masuk ke warung yang menjual nasi kuning. Ada lauk telur bumbu pedas, lalu ada ikan air tawar dan ada ayam serta daging. Saya tanya ke mas apa mengandung daging babi? Ternyata tidak ada daging babi di jual di situ.
(Saya menolak makan daging babi bukan hanya karena agama mengharamkannya, tapi terus terang saya enggan karena melihat hidup babi ketika di peternakan dan wujud dagingnya).
09.30WIB
Selesai makan kami ke pasar. Kami beli rambutan. Eh ini anehnya, orang jualan di sini bukan kiloan tapi bijian. Jadi bukan sekilo berapa, tapi 10 biji (seiket) berapa. Kami beli beberapa iket rambutan. Cukup deh kalau dimakan orang 3-4 sampai kenyang
10.00WIB
Kami menuju makam yang disiapkan untuk pakde. Dan ini lagi anehnya. Di Kapuas sebuah makam nggak bisa terlalu dalam. Lubang untuk pakde saya saja cuman sekitar 1 meter kurang dalamnya. Maklum aja di Kapuas kan tanahnya rawa-rawa jadi kalau terlalu dalam (six feet deep) ya malah jadi sumur.
Lubang itupun mesti ditutup di bagian dasar, samping kanan, dan samping kiri pakai cor-coran. Maksudnya biar nggak rembes nanti airnya.
Yang mengerjakan pembuatan makam itu ternyata orang Jawa. Maka saya dan mas saya ngobrol pake bahasa Jawa. Dari logatnya saya tahu bapak itu orang Jawa Timur. Saya perkirakan bapak itu sudah lama tinggal di sini karena dia sudah cukup fasih berbicara bahasa Manyan (bahasa setempat)
Oia, lubang yang kurang dari 1 meter itu sudah agak biasa. Malah di situ ada sebuah makam orang Manado (saya tahu dari namanya yang bermarga Tumewu) yang petinya cuman numpang di atas tanah! Jadi peti itu kemudian ditembok.
11.00WIB
Pulang ke rumah, ternyata acara kebaktian pagi di situ sudah selesai. Saya habiskan siang itu dengan tidur-tiduran dan ngobrol.
Eh ternyata saya ketiduran beneran. Dan akibat tidur itu sebuah bencana datang. Kacamata saya pecah diinjak orang! Nggak tahu deh siapa yang memecahkan kacamata saya yang dulu juga pernah pecah diinjak saya sendiri. Mungkin ponakan-ponakan saya yang berlari-lari di situ yang menginjak. Kacamata itu memang di lantai karena saya selalu melepas kacamata kalau tidur.
Huuh! Sedihnya. Lagi nggak ada duit malah pecah kacamata!
Tapi saya sedikit terhibur karena dua kakak saya mengajak saya nanti sore pergi ke tepian sungai Barito untuk beli rambutan dan (ini dia kesukaan saya) durian! Nggak sabar menanti sore.

16.00WIB
Saya pergi bersama mbak saya dan anaknya serta mas saya yang mengemudi mobil pikap.
Cuma butuh 10 menit untuk sampai ke tepian sungai Barito. Saya lihat di situ para penjual rambutan dan durian berkumpul menawarkan barang dagangannya.

Segera saja saya dan mas saya menawar beberapa durian sementara mbak saya menawar rambutan (untuk oleh-oleh di Jawa, katanya). Saya agak kecewa mengetahui ternyata durian di sini tidak murah. Meskipun masih lebih murah dari harga di Jawa, harga sebuah durian besar mencapai 15 ribu sampai 20 ribu rupiah.
Tapi nggak papa, yang penting puas. Segera kami makan sebiji durian berukuran besar seharga 20 ribu. Wah enak juga. Creamy and delicious!!! Saya yang memang penggemar berat durian merasa menemukan hari saya. Kami makan ditemani angin yang cukup deras di pinggiran sungai Barito. Lebar sungai Barito mungkin 300 meter. Sungai selebar ini bakal sulit dijumpai di Jawa.
Ternyata durian tadi bukan durian terakhir yang kami makan. Mbak saya juga membelika durian yang berukuran lebih kecil. Dia beli 4 buah cuman buat saya dan mas saya. Jangan salah sangka, meskipun kecil, rasanya justru lebih manis dan legit dari yang besar tadi. Rasanya durian itu lumer di mulut saya!
(Sayang sekali pemandangan di "pasar" buah dadakan itu tidak bisa saya rekam melalui kamera karena kamera saya tertinggal di Jogja. Padahal suasana Sabtu sore itu benar-benar nyaman untuk dinikmati)
17.30WIB
Saya pulang ke rumah dengan rasa puas. Juga dibelikan rambutan dalam jumlah banyak. Saya khawatir berat rambutan itu bakal melebihi 20kg, batas maksimal bagasi di pesawat. Tapi kata mbak saya, nggak mungkin lebih dari 20kg.
Sebenernya pengin juga sih bawa durian ke Jawa. Rasa nikmat di lidah masih terasa. Tapi saya takut nanti ketahuan petugas bandara dan ditolak masuk bagasi dan disuruh dibuang. Kalau begitu bakal mubazir kan?
(Sebenernya ada beberapa trik yang bisa memungkinkan kita membawa durian di pesawat. Kita bisa membungkus durian dalam wadah plastik (tupperware) yang ketat. Kemudian pada celah-celahnya kita lakban. Bisa juga untuk menghilangkan baunya kita taruh bubuk kopi, karena kopi bisa menyamarkan bau yang kuat sekalipun. Meski saya tahu itu bisa diakali saya tetap saja nggak berani bawa durian ke pesawat)
19.00WIB
Setelah selesai mandi saya menyaksikan orang-orang sibuk menyiapkan acara kebaktian penghiburan malam. Duh…hari itu mereka memasak daging babi. Untung mas saya tanggap dan mengajak saya makan di luar beli ayam atau bebek goreng.
Setelah berputar-putar sejenak, kami menemukan tempat makan ayam itu. Dari namanya, saya tahu yang jualan orang Jawa Timur (hmmm banyak juga orang Jawa berdiam di sini). Maka saya pesan ayam goreng pakai bahasa Jawa.
Enak juga makan makanan pedas di sini. Selama ini mbak saya nggak pernah masak pedas. Bahkan setahu saya mereka (orang Kapuas) tidak pernah memasak memakai cabai.
Uh ternyata mahal juga makan ayam di kampung orang. Satu biji ayam goreng komplit plus dua gelas es teh habis 9500 perak! (Ternyata trik memakai bahasa ibu—Jawa kepada sesama orang Jawa tidak bisa membuat mereka menjual murah.Hehehehe)

20.00WIB
Kami pulang ke rumah. Ternyata di rumah orang-orang sudah menunggu karena ada acara memasukkan jenazah ke peti. Semua anak-anak dan saudara-saudara menyaksikan. Saya cuman bisa melihat dari luar kamar.

23.00WIB
Saya tertidur pulas dan nggak sempat menyelesaikan nonton acara American Idol. Hehehehe.

Minggu, 29 Januari 2006

07.30WIB
Saya mandi pagi karena saya disuruh bersiap pagi-pagi. Katanya kami diminta berfoto di depan jenazah pakde. Bukan itu saja, saya harus cabut dari Kapuas jam 11.30 karena harus mengejar penerbangan dari Banjarmasin. Dengan begitu, saya nggak akan sempat menyaksikan pemakaman pakde karena prosesi pemakan dimulai jam 12.00. Sebenarnya saya agak tidak enak karena tidak bisa ikut sampai selesai. Tetapi mengingat saya sudah pesan tiket return Banjar-Jogja, saya tidak bisa berbuat banyak.
Pagi itu juga saya mengepak rambutan-rambutan yang akan saya bawa pulang ke dalam tas. Total tiga buah tas anyaman besar terisi dengan rambutan. Satu untuk teman-teman di Jogja, dua sisanya untuk keluarga di Purwokerto karena saya langsung ke Purwokerto setelah tiba di Jogja.
11.00WIB
Saya berpamitan kepada keluarga di Kapuas dan meminta maaf tidak bisa hadir sampai acara pemakaman selesai. Saya juga menyampaikan maaf dari keluarga tidak ada yang hadir dan cuman mewakilkan kepada saya. Saya meminta mereka mengikhlaskan kepergian pakde. Karena hanya dengan keikhlasan, duka dapat segera dihapus dan yang meninggal pun dapat menjalani kehidupan berikutnya dengan tenang.
(Perhitungannya, saya berangkat 11.30WIB (12.30WITA) dan sampai di Banjar 2 jam kemudian (14.30WITA) dan pesawat akan berangkat pada 15.30WITA)
Saya dicarterkan mobil. Wah nyaman, mobilnya ber-AC jadi bisa tidur di perjalanan. Jalanan trans Kalimantan yang relatif mulus membantu saya rehat sejenak.
14.30WITA
Saya sampai lagi di bandara Syamsuddin Noor, Banjarmasin. Tepat waktu 2 jam dari Kapuas. Agak kerepotan karena menenteng 3 tas besar penuh berisi rambutan, saya check-in. Ternyata bagasi saya seberat 18kg. Jadi masing-masing tas rata-rata 6kg. Hahahaha.
15.35WITA
Setelah cukup lama menunggu pesawat yang akan menerbangkan saya ke Jogja datang juga. Kembali saya harus naik bis untuk menuju apron tempat pesawat diparkir. Dalam waktu kurang dari 10 menit saya sudah masuk pesawat. Meskipun sudah tidak setegang waktu berangkat, tetap saja saya masih khawatir naik pesawat.
Ternyata dari rekan sebaris kursi ada satu wajah yang cukup saya kenal. Dia adalah Arie Sudjito, dosen FISIPOL UGM, tetangga fakultas. Katanya ia baru saja menjadi pembicara seminar di Banjarmasin tentang isu Good Governance.
Ketika pesawat mulai menuju landas pacu, hidung saya mencium bau yang familiar. Hmmmm….durian! Kurang ajar, ada yang bisa meloloskan durian ke atas kabin! Tahu begini, saya nekat saja bawa durian! Huh! Asem!
Setelah saya endus-endus lagi, saya tahu kalau bau kuat itu berasar dari tas di atas kepala saya. Harumnya bau durian menusuk hidung membuat saya agak lupa pada ketegangan tinggal landas. (Saya nggak ngerti kenapa orang Eropa nggak suka durian. Menurut saya, durian itu buah dari surga. Hehehehe)
15.50WIB
Pesawat sudah berada di atas Yogyakarta. Saya lihat cuaca cukup mendung. Awan hitam banyak menghalangi pesawat membuat banyak goncangan-goncangan kecil. Kembali saya tegang. Apalagi badan pesawat sempat oleng ke kanan-kiri sebanyak dua kali! Lagi-lagi saya cuma bisa berdoa. (uh ndeso-ku kok nggak ilang-ilang sih?)
16.05WIB
Pesawat sudah mendarat dengan selamat di Adi Sucipto. Proses klaim bagasi cuma memakan waktu 20 menit. Saya sudah bisa keluar membawa 3 tas besar oleh-oleh di troli.
Saya pesan taksi ke kampus karena motor saya masih di kampus.
16.45WIB
Sampai di kampus, segera saya serahkan satu tas besar rambutan itu untuk teman-teman. Teman-teman yang sedang stress mikir pembuatan buku sejarang jadi sumringah melihat oleh-oleh yang saya bawa.
Pesenan gudeg kendil yang saya titipkan ke teman juga sudah dibelikan. Lansung saja saya pulang ke rumah buat nyiapin apa-apa aja yang mau dibawa ke Purwokerto.
19.00WIB
Menunggu di Gamping dengan hujan yang sangat deras mengguyur. Sudah 1 jam saya menunggu belum ada bis Patas AC yang biasa saya tumpangi.
Akhirnya bis yang ditunggu datang juga! Segera saja saya naik dan jatuh tertidur ketika bis baru di sekitar Wates. Saya terbangun sudah di pertigaan Buntu.
22.30WIB
Akhirnya saya sampai di Purwokerto juga. Huh melelahkannya perjalanan non-stop selama 10 jam dari Kuala Kapuas-Banjarmasin-Yogyakarta-Purwokerto!

(the end)

Catatan Perjalanan ke Bumi Borneo

January 31st, 2006 by arjazz

Bagian Pertama
First time-flyer

Kamis malam (26 Januari 2006)
22.15WIB
Sebuah malam yang dingin di kampus tua. Sebuah telepon berdering. Tertulis "place called home". Ternyata mamah yang telpon. Sebuah berita duka. "Ar, pakde meninggal dunia di Banjarmasin. Baru saja. Sepertinya pakde cuman menunggu kedatangan bude dari Jawa". Saya cukup kaget meskipun saya tahu Pakde saya sudah cukup lama masuk rumah sakit karena kanker paru-paru yang cukup parah. Cuma itu kabar yang beliau sampaikan. Setelah berbasa-basi sebentar, telepon ditutup.

Jumat (27 Januari 2006)
05.55WIB
Saya baru terbangun. Masih di kampus. Masih berkutat dengan kerjaan yang nggak selesai-selesai (sebenarnya bukan kerjaan saya, tapi karena temen-temen butuh support, mau nggak mau saya mesti menemani mereka. Lumayan ada internet gratis via wifi di situ). Kembali sebuah telepon dari rumah. "Mas, kamu wakilin keluarga ke Kuala Kapuas (kira-kira 100 KM dari Banjarmasin). Sebenernya kalo papa belum pulang dari Jakarta, trus langsung. Tapi ini udah kadung di Purwokerto. Kamu aja ya? Nanti tak kirimi ongkos". Saya cuman mengiyakan. Sedikit khawatir, karena hari itu saya punya banyak urusan yang mesti diselesaikan. Diantaranya bayar kuliah (konon ngantrinya lama) dan beli barang-barang titipan seorang teman (padahal nggak cuman di satu toko).
08.00WIB
Saya sudah selesai bayar kuliah dan registrasi. Untung aja nggak perlu antri. Sebab emang jam 7.30 loketnya baru aja buka. Saya ke travel biro tanya apa ada tiket ke Banjarmasin hari itu. Ternyata masih ada. Penerbangan siang itu jam 12.50 dengan Mandala. (Hmmmm….agak kawatir juga. Inget kejadian di Medan). Sekalian saya pesan tiket return buat Minggu. Trus saya bayar itu tiket. Wah mahal juga nih. Tapi saya maklum karena pesennya mendadak gitu. Trus juga pas hari-hari liburan.
09.00WIB
Saya keluar dari rumah sudah mandi. Mesti tangkas nih. Banyak yang mesti dikerjain.
Segera saya menuju kampus. Finalisasi registrasi. Belajar dari pengalaman, gara-gara administrasi nggak beres, saya di-del sebanyak 10 sks alias 5 MK. Untung cepet juga selesainya. (Agaknya saya beruntung hari ini).
Seleai itu segera saya ke rumah Angga (rumah sodara) yang kebetulan di lagi di Jogja. Saya mau ngajakin dia beli-beli barang.
11.05WIB
Selesai sudah urusan kulakan ini. Saya antar lagi Angga ke rumahnya dan saya pulang ke rumah buat nyiapin barang-barang yang mesti dibawa ke Banjar. Untunglah saya cowok, jadi bisa cepet nyiapin semuanya. 15 menit smuanya beres. Saya keluar dari rumah jam 11.25. Menuju kampus lagi, minta temen nganter ke bandara.
11.40WIB
Cuaca Jogja hari itu mendung. Agak gerimis. Kekhawatiran saya makin menjadi-jadi. Ini adalah kali pertama saya terbang, jadi agak khawatir berlebihan (maklum orang desa, baru pertama naek pesawat, jadinya tegang!). Dalam hati saya berdoa, jangan hujan donk…. Ntar kalo ujan landasannya jadi licin. Ya Allah….aku belum mau mati. (Sumpah asli tegang banget. Saya nggak bisa nutupin fakta bahwa saya belum pernah naik pesawat sebelumnya. Saya nggak berusaha sok tenang seolah saya sudah berpengalaman sebelumnya…Apalagi temen saya ngeledek "Ya, apa pesen terakhirmu?". "Bathukmu!", saya jawab.
12.10WIB
Saya check-in. Saya berkali-kali ditelepon dari Kalimantan. Katanya saya satu penerbangan saya sodara yang satu lagi dari Jogja juga. Setelah mencari-cari agak lama, saya ketemu juga sama Mbak yang satu itu.
Tunggu punya tunggu, pesawat Mandala yang akan saya tumpangi belum juga datang. Saya masih saja tegang. Untung sedikit berkurang karena langit saya lihat agak kembali cerah.
12.50WIB
Pesawat yang ditunggu datang. Kekhawatiran saya makin berkurang melihat pesawatnya ternyata berbadan cukup besar. Boeing 737-400. Lega juga. Dan nggak lama, saya akhirnya boarding juga. Tempat duduk saya di bagian belakang. Nggak jauh dari lavatory, jadi kalo ntar mabok udara, dan nggak sempat minta kantong muntah, saya bisa lari ke toilet. Hehehehe.
13.10WIB
Flight attendant memberi serangkaian instruksi untuk keselamatan dan kenyamanan penerbangan. Saya perhatiin aja para pramugari-pramugari yang cantik-cantik itu. (Meski buat saya, cuman ada satu pramugari yang lebih cantik dari yang lain. Hehehe).
Selesai instruksi diberikan, pesawat menuju ujung landas pacu.
Dalam hitungan detik, pesawat melaju sangat cepat. Dada ini terasa ditekan. Adrenalin saya mulai menaik. Bagian depan pesawat makin terlihat tinggi (oh…pesawat ini pasti mulai menanjak). Ketegangan mulai memuncak ketika pesawat mulai mengudara. Saya inget cerita papa katanya kalo naik pesawat pas tinggal landas, pesawat serasa berhenti di udara. Wah benar-benar ketegangan saya memuncak. Adrenalin naik ke ubun-ubun.
Kira-kira sepuluh menit kemudian, keadaan menjadi tenang. Pesawat sudah terbang mendatar. Ketegangan saya mulai mencair dan saya sudah lebih teratur bernapas. Namun perlahan kuping saya mulai terasa sakit. Pasti karena perbedaan tekanan udara. (Lagi-lagi saya mengumpat diri sendiri: "dasar ndeso, naik pesawat pertama kali tubuh langsung bereaksi negatif").
15.30WITA
Pesawat mendarat di Banjarmasin. Ternyata bandara Syamsuddin Noor luas juga. Lebih luas dari Adi Sutjipto. (Dari ujung apron ke terminal saja harus dijemput pake bis besar.) Inilah kali kedua saya menginjakkan kaki di bumi Borneo setelah sebelumnya tahun 1999 (ketika saya kelas 2 SMA) ke sini memakai kapal laut (Wah, saya sudah naik kelas nih. Pikir saya menahan geli).
16.50WITA
Proses klaim bagasi mbak yang bareng saya sudah kelar. Agak lama dan semrawut karena kebetulan ada rombongan jemaah haji yang baru turun juga. Di pintu keluar, suami si mbak yang menjemput kami. Segera saja kami keluar kompleks bandara dan meluncur menuju Kuala Kapuas.
Setelah hampir tujuh tahun sejak saya menjejakkan kaki di sini, ternyata jalan Trans-Kalimantan yang saya lewati sudah cukup mulus. Berbeda dengan tahun 1999, dimana masih ada satu ruas jalan (kira-kira 3-4KM) yang belum diaspal, jalan yang saya lewati kali ini terhitung sangat enak dijalani. Meskipun di beberapa tempat agak ada bolong-bolong, secara umum, kemajuan sarana jalan di sana sudah cukup baik.
18.00WIB
Saya sudah sampai di Kuala Kapuas. Sebuah kota kecil. Menurut saya malah lebih kecil dari Sokaraja, sebuah kota kecamatan di timur Purwokerto. Segera saya masuk rumah duka. Saya melihat jenazah pakde sudah dibaringkan di atas ranjang. Mukanya bersih. Saya melihat keikhlasan di mata anak-anaknya, kakak-kakak saya.
Setelah saya selesai mandi, saya lihat keluarga duka tengah bersiap-siap menyelenggarakan acara kebaktian penghiburan (keluarga Pakde saya beragama Kristen). Saya yang berbeda, hanya duduk di dalam rumah, mencoba ngobrol dengan mbak saya, anak tertua almarhum. Tidak terlihat rasa sedih di air mukanya. Dia justru merasa rela dan puas telah merawat ayahnya secara baik hingga hari ia meninggal. Sebagai anak tertua, ia meraasa memiliki kewajiban untuk melakukan bakti hingga saat-saat terakhir hidup ayahandanya.

*catatan: ada perbedaan waktu antara Banjarmasin yang menggunakan Waktu Indonesia Tengah (WITA) dengan Kuala Kapuas yang menggunakan Waktu Indonesia Barat (WIB). Jadi, walaupun Banjar berada di Kalsel dan Kapuas di Kalteng, waktu di Banjar satu jam lebih cepat daripada di Kapuas (dan Jogja, serta Purwokerto)
(end of part one)